• Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
Selasa, Oktober 6, 2026
  • Login
Folkstime.id
Advertisement
  • News
  • Daerah
  • Semarang
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • News
  • Daerah
  • Semarang
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Teknologi
No Result
View All Result
Folkstime.id
No Result
View All Result

Idul Adha 1447 H: Ketika Pisau Ibrahim Bukan Lagi Tentang Menyembelih, Melainkan Menaklukan Ego

Muso by Muso
27 Mei 2026
in Semarang
0
Idul Adha 1447 H: Ketika Pisau Ibrahim Bukan Lagi Tentang Menyembelih, Melainkan Menaklukan Ego
Idul Adha 1447 H: Ketika Pisau Ibrahim Bukan Lagi Tentang Menyembelih, Melainkan Menaklukan Ego
0
SHARES
0
VIEWS

FOLKSTIME.ID – Gema takbir Idul Adha 1447 H/2026 M kembali mengisi ruang-ruang kehidupan masyarakat Indonesia.

Suara yang berkumandang dari masjid, mushola, jalan-jalan kampung, hingga ruang digital menghadirkan suasana religius yang selalu dinantikan setiap tahunnya.

Di tengah semarak itu, masyarakat kembali diingatkan pada kisah monumental Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail; sebuah peristiwa yang selama berabad-abad dipahami sebagai puncak ketaatan dan pengorbanan.

Namun, di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks, ada pertanyaan yang patut diajukan secara jujur: apakah pesan Idul adha hari ini masih benar-benar dipahami, ataukah hanya tinggal menjadi rutinitas tahunan yang kehilangan daya gugahnya?

Kisah Nabi Ibrahim sesungguhnya tidak semata-mata berbicara tentang penyembelihan. Inti terdalam dari peristiwa tersebut adalah keberanian manusia untuk menundukkan sesuatu yang paling dicintainya demi ketaatan kepada nilai yang lebih tinggi.

Pisau yang dipegang Ibrahim bukan sekadar alat untuk memotong tubuh, melainkan simbol keteguhan untuk memotong keterikatan duniawi yang berlebihan. Pada titik inilah makna kurban menemukan relevansinya dalam kehidupan masyarakat modern.

Hal ini, manusia tidak lagi sedang diuji untuk menyembelih anaknya. Ujian yang dihadapi justru jauh lebih halus, lebih dekat, dan sering kali tidak disadari.

Yang harus disembelih bukan tubuh manusia, melainkan ego yang tumbuh diam-diam di dalam diri. Ego yang menjelma menjadi keserakahan, keinginan untuk dipuji, kebutuhan untuk selalu terlihat lebih unggul, serta hasrat yang tidak pernah menemukan batas kepuasan.

Indonesia saat ini sedang menghadapi siatuasi sosial yang menunjukkan gejala tersebut. Di tengah kemajuan teknologi dan perkembangan media digital. Masyarakat semakin akrab dengan budaya pencitraan.

Banyak orang lebih sibuk membangun kesan dibandingkan membangun substansi. Kehidupan perlahan berubah menjadi panggung yang dipenuhi kebutuhan untuk mendapat pengakuan. Kebaikan sering kali tidak lagi cukup dilakukan, tetapi juga harus dipertontonkan.

Kesederhanaan tidak lagi dianggap menarik apabila tidak mendapatkan perhatian. Media sosial, yang pada awalnya diharapkan menjadi ruang berbagi informasi dan memperkuat relasi sosial, dalam banyak situasi, justru menghadirkan kompetisi baru yang tidak terlihat.

Manusia berlomba-lomba menunjukkan pencapaian, gaya hidup, bahkan ibadahnya. Tidak sedikit orang yang tanpa sadar terjebak pada kebutuhan untuk terus mendapatkan validasi orang lain.

Ukuran kebahagiaan berubah, ukuran keberhasilan pun bergeser. Yang terlihat sering dianggap lebih penting dibandingkan yang sesungguhnya terjadi. Fenomena ini dapat dilihat dalam berbagai lapisan kehidupan sosial.

Di ruang politik masyarakat menyaksikan pertarungan kepentingan yang sering kali lebih menonjolkan ambisi pribadi daripada kepentingan publik. Di ruang ekonomi, kesenjangan sosial masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Sementara itu, di lingkungan masyarakat sendiri, budaya individualisme semakin menguat. Kehidupan perkotaan yang semakin cepat sering kali membuat kepedulian sosial kehilangan ruang tumbuhnya.

Ironisnya, situasi tersebut hadir di tengah masyarakat yang dikenal religius. Rumah ibadah bertambah, kegiatan keagamaan semakin ramai, dan simbol-simbol keagamaan semakin mudah ditemukan.

Namun, pertanyaan yang muncul adalah mengapa berbagai persoalan sosial seperti korupsi, intoleransi, ketidakjujuran, dan lemahnya empati masih terus muncul? Di sinilah persoalannya. Keberagamaan kadang berhenti pada simbol, sementara substansinya tertinggal jauh di belakang.

Idul adha seharusnya menjadi momentum refleksi untuk melihat kembali persoalan tersebut. Sebab kurban bukan sekadar persoalan berapa ekor hewan yang disembelih atau berapa besar biaya yang dikeluarkan.

Nilai utama kurban terletak pada kesediaan manusia untuk mengalahkan dirinya sendiri. Pengorbanan terbesar sering kali bukan kehilangan sesuatu yang dimiliki, melainkan melepaskan kesombongan yang selama ini dipelihara.

Barangkali hari ini yang perlu disembelih bukan hanya kambing atau sapi. Ada ego yang perlu dipotong agar manusia tidak merasa dirinya paling benar. Ada keserakahan yang harus dikurangi agar hak orang lain tidak terabaikan.

Ada sifat pamer yang perlu ditundukkan agar kebaikan tetap memiliki ketulusan. Ada kebencian yang harus dihilangkan agar kehidupan sosial kembali menemukan makna persaudaraan.

Masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang kuat untuk mewujudkan hal tersebut. Tradisi gotong royong, solidaritas, dan semangat kebersamaan telah lama menjadi bagian dari identitas sosial bangsa ini.

Momentum Idul adha dapat menjadi ruang untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tersebut. Distribusi daging kurban, misalnya, tidak hanya tentang pembagian materi, tetapi juga menjadi simbol bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Pada akhirnya, kisah Nabi Ibrahim mengajarkan satu pelajaran penting: manusia tidak akan pernah mencapai kedewasaan spiritual jika masih menjadi tawanan egonya sendiri.

Dunia boleh berubah dengan segala kemajuan teknologi dan dinamika sosialnya, tetapi tantangan terbesar manusia tetap sama, yaitu menaklukan dirinya sendiri.

Maka, ketika Idul adha 1447 H / 2026 M Kembali menggema, barangkali yang perlu direnungkan bukan hanya seberapa besar hewan kurban yang disiapkan, melainkan seberapa besar keberanian kita untuk menyembelih kesombongan, keangkuhan, dan kerakusan yang selama ini hidup dalam diri.

Sebab pada akhirnya, pisau Ibrahim tidak pernah sekadar mengajarkan tentang menyembelih. Pisau itu sesungguhnya sedang mengajarkan manusia bagaimana cara menaklukan ego.

Penulis: Endang Supriadi, M.A.(Sekretaris Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Walisongo Semarang)

Tags: EgoIDUL ADHAKURBAN
Muso

Muso

Stay Connected test

  • 24k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Nostalgia suasana RTAR Rayon Sutawijaya pada 2018 lalu di Balai RW Grogol Dukuh, Kota Salatiga.
Nostalgia suasana RTAR Rayon Sutawijaya pada 2018 lalu di Balai RW Grogol Dukuh, Kota Salatiga.

Bangun Tersentak dari Bumiku Subur, IKA PMII Rayon Sutawijaya Tetapkan Empat Pilar Strategis

26 September 2026
Kisah Inspiratif Siti Lailiyah Raih Doktor di UIN Walisongo di Kala Harus Mengasuh Tiga Anak sambil Menyusui
Kisah Inspiratif Siti Lailiyah Raih Doktor di UIN Walisongo di Kala Harus Mengasuh Tiga Anak sambil Menyusui

Kisah Inspiratif Siti Lailiyah Raih Doktor di UIN Walisongo di Kala Harus Mengasuh Tiga Anak sambil Menyusui

29 September 2026
AHY Run Jateng 2026
AHY Run Jateng 2026 di Semarang telah mencatat sekitar 4.200 pendaftar dari berbagai daerah.

5000 Pelari akan Ramaikan AHY Run Jateng 2026 di Semarang, Hadiah Umrah dan Motor Listrik

26 September 2026
Percepat Penanggulangan TBC, 884 Puskesmas di Jateng Bakal Dilengkapi Alat Diagnostik

Percepat Penanggulangan TBC, 884 Puskesmas di Jateng Bakal Dilengkapi Alat Diagnostik

28 September 2026
Kebakaran hebat melanda Pasar Kanjengan Johar Semarang, meluluhlantakkan puluhan kios dan menghancurkan harapan pedagang kecil.
Kebakaran hebat melanda Pasar Kanjengan Johar Semarang, meluluhlantakkan puluhan kios dan menghancurkan harapan pedagang kecil.

Padmi Tatap 4 Kios yang Ludes dalam Sekejap, Kebakaran Pasar Kanjengan Semarang Sisakan Luka Mendalam

4
Pemerintah Kota Semarang memperluas penerima bisyaroh penggerak keagamaan menjadi 9.992 orang pada 2026. Modin, guru mengaji, guru RA, Madin hingga marbot mendapat perhatian lebih.
Pemerintah Kota Semarang memperluas penerima bisyaroh penggerak keagamaan menjadi 9.992 orang pada 2026. Modin, guru mengaji, guru RA, Madin hingga marbot mendapat perhatian lebih.

Bisyaroh Penggerak Keagamaan Kota Semarang Diperluas, Hampir 10.000 Penerima Jadi Bukti Komitmen Wali Kota Agustina Menguatkan Pelayanan Sosial

4
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen melakukan Sunmori sejauh 30 km dari Mijen ke Genuk, Semarang, untuk menghadiri halal bihalal warga.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen melakukan Sunmori sejauh 30 km dari Mijen ke Genuk, Semarang, untuk menghadiri halal bihalal warga.

Sunmori 30 Km Naik Vespa, Wagub Jateng Taj Yasin Hadiri Halalbihalal Warga Genuk

3
Pengembangan Candi Borobudur sebagai pusat aglomerasi wisata Jawa Tengah mulai disiapkan. Kawasan Kopeng dan Rawa Pening akan diintegrasikan untuk mendongkrak kunjungan wisata dan ekonomi lokal.
Pengembangan Candi Borobudur sebagai pusat aglomerasi wisata Jawa Tengah mulai disiapkan. Kawasan Kopeng dan Rawa Pening akan diintegrasikan untuk mendongkrak kunjungan wisata dan ekonomi lokal.

Candi Borobudur Disiapkan Jadi Poros Wisata Jateng, Kopeng–Rawa Pening Diintegrasikan dalam Aglomerasi Besar

3
SARGA Motorsport Jadikan Passion Drift Mijen sebagai Pemanasan Menuju Rallycross World Cup 2026
Pebalap SARGA MOTORSPORT, Kingston Romeo Effendi saat tampil dalam ajang Kejurnas Drifting Seri 4 Passion, di Sirkuit Mijen Semarang, Minggu (4/9/2026) sore.

SARGA Motorsport Jadikan Passion Drift Mijen sebagai Pemanasan Menuju Rallycross World Cup 2026

5 Oktober 2026
Dari Semarang hingga Memburu Bandar Narkoba Lintas Negara, Ini Rekam Jejak Roy Hardi Siahaan Kapolda Jateng Baru

Roy Hardi Siahaan Kembali ke Jawa Tengah, Bawa Pengalaman Buru Buronan Narkoba Internasional

5 Oktober 2026
Dari Semarang hingga Memburu Bandar Narkoba Lintas Negara, Ini Rekam Jejak Roy Hardi Siahaan Kapolda Jateng Baru
Dari Semarang hingga Memburu Bandar Narkoba Lintas Negara, Ini Rekam Jejak Roy Hardi Siahaan Kapolda Jateng Baru

Dari Semarang hingga Memburu Bandar Narkoba Lintas Negara, Ini Rekam Jejak Roy Hardi Siahaan Kapolda Jateng Baru

5 Oktober 2026
Ariendra Reiga Santoso, bocah berusia 4,5 tahun di Semarang, memiliki kegemaran menari sejak usia dini. Tanpa latihan khusus di sanggar, Reiga belajar mengikuti gerakan tari dari video YouTube
Ariendra Reiga Santoso, bocah berusia 4,5 tahun di Semarang, memiliki kegemaran menari sejak usia dini. Tanpa latihan khusus di sanggar, Reiga belajar mengikuti gerakan tari dari video YouTube

Belajar Tari dari YouTube, Bocah 4,5 Tahun di Semarang Ini Berani Tampil Tanpa Latihan Khusus

5 Oktober 2026

Recent News

SARGA Motorsport Jadikan Passion Drift Mijen sebagai Pemanasan Menuju Rallycross World Cup 2026
Pebalap SARGA MOTORSPORT, Kingston Romeo Effendi saat tampil dalam ajang Kejurnas Drifting Seri 4 Passion, di Sirkuit Mijen Semarang, Minggu (4/9/2026) sore.

SARGA Motorsport Jadikan Passion Drift Mijen sebagai Pemanasan Menuju Rallycross World Cup 2026

5 Oktober 2026
Dari Semarang hingga Memburu Bandar Narkoba Lintas Negara, Ini Rekam Jejak Roy Hardi Siahaan Kapolda Jateng Baru

Roy Hardi Siahaan Kembali ke Jawa Tengah, Bawa Pengalaman Buru Buronan Narkoba Internasional

5 Oktober 2026
Dari Semarang hingga Memburu Bandar Narkoba Lintas Negara, Ini Rekam Jejak Roy Hardi Siahaan Kapolda Jateng Baru
Dari Semarang hingga Memburu Bandar Narkoba Lintas Negara, Ini Rekam Jejak Roy Hardi Siahaan Kapolda Jateng Baru

Dari Semarang hingga Memburu Bandar Narkoba Lintas Negara, Ini Rekam Jejak Roy Hardi Siahaan Kapolda Jateng Baru

5 Oktober 2026
Ariendra Reiga Santoso, bocah berusia 4,5 tahun di Semarang, memiliki kegemaran menari sejak usia dini. Tanpa latihan khusus di sanggar, Reiga belajar mengikuti gerakan tari dari video YouTube
Ariendra Reiga Santoso, bocah berusia 4,5 tahun di Semarang, memiliki kegemaran menari sejak usia dini. Tanpa latihan khusus di sanggar, Reiga belajar mengikuti gerakan tari dari video YouTube

Belajar Tari dari YouTube, Bocah 4,5 Tahun di Semarang Ini Berani Tampil Tanpa Latihan Khusus

5 Oktober 2026

Browse by Category

  • Bisnis
  • Daerah
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Lifestyle
  • News
  • Semarang
  • Sports
  • Teknologi
  • Travel
  • Travel

Recent News

SARGA Motorsport Jadikan Passion Drift Mijen sebagai Pemanasan Menuju Rallycross World Cup 2026
Pebalap SARGA MOTORSPORT, Kingston Romeo Effendi saat tampil dalam ajang Kejurnas Drifting Seri 4 Passion, di Sirkuit Mijen Semarang, Minggu (4/9/2026) sore.

SARGA Motorsport Jadikan Passion Drift Mijen sebagai Pemanasan Menuju Rallycross World Cup 2026

5 Oktober 2026
Dari Semarang hingga Memburu Bandar Narkoba Lintas Negara, Ini Rekam Jejak Roy Hardi Siahaan Kapolda Jateng Baru

Roy Hardi Siahaan Kembali ke Jawa Tengah, Bawa Pengalaman Buru Buronan Narkoba Internasional

5 Oktober 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

© 2026 Folkstime.id - Akurat Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • News
  • Daerah
  • Semarang
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Teknologi

© 2026 Folkstime.id - Akurat Terpercaya