
Mudik Lebaran 2026, KAI Daop 4 Semarang, Penumpang Kereta Api, Stasiun Tawang, Stasiun Poncol, Arus Mudik, Kereta Api Lebaran, Transportasi Semarang
FOLKSTIME.ID — Revitalisasi terhadap 120 bangunan cagar budaya yang dikelola PT Kereta Api Indonesia (KAI) dipercepat sebagai bagian dari upaya pelestarian aset bersejarah nasional, termasuk penyelesaian revitalisasi tahap pertama Stasiun Tawang Semarang yang telah dikembalikan mendekati bentuk aslinya.
Sebanyak lebih dari 600 bangunan cagar budaya saat ini dikelola PT KAI di berbagai daerah. Dari jumlah tersebut, 120 bangunan telah dimasukkan ke dalam program revitalisasi yang diarahkan untuk menjaga nilai sejarah sekaligus memperkuat fungsi edukasi kepada masyarakat.
Revitalisasi Stasiun Tawang Semarang diselesaikan setelah dikerjakan selama 240 hari dengan fokus pekerjaan pada fasad depan, sisi barat, dan sisi timur bangunan. Pemulihan dilakukan menggunakan referensi dokumentasi lama sehingga karakter arsitektur asli stasiun tetap dipertahankan sebagai salah satu ikon transportasi bersejarah di Kota Semarang.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan perusahaan terus berkomitmen menjaga keberadaan bangunan cagar budaya melalui program revitalisasi yang berkelanjutan. “Perlu kami laporkan bahwa PT KAI mengelola lebih dari 600 bangunan cagar budaya. Yang mana sebanyak 120 di antaranya masuk ke dalam program revitalisasi untuk edukasi,” ujar Bobby saat peresmian revitalisasi tahap pertama Stasiun Tawang Semarang, Kamis (30/7/2026).
Menurut Bobby, proses revitalisasi dilakukan tanpa menghilangkan nilai historis bangunan yang telah berdiri selama lebih dari satu abad. Seluruh pekerjaan diarahkan agar tampilan bangunan kembali menyerupai kondisi awal berdasarkan referensi sejarah yang tersedia.
“Bagian fasad depan, sisi barat, dan sisi timur kami kembalikan lagi ke bentuk semula. Kami mendapat referensinya dari foto-foto lama, sehingga lampu dan ornamen yang ada bisa dikembalikan untuk menjaga kelestarian dan sejarahnya,” katanya.
Program revitalisasi bangunan cagar budaya juga akan dilanjutkan ke sejumlah stasiun bersejarah lainnya. Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Tanjung Priok, dan Stasiun Bogor telah disiapkan sebagai proyek berikutnya dengan konsep pemulihan fasad bangunan ke bentuk aslinya.
Bobby berharap revitalisasi Stasiun Tawang Semarang tidak hanya menjaga warisan sejarah, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat serta menjadi contoh bahwa pembangunan dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya.
“Kami berharap revitalisasi Stasiun Semarang Tawang memberikan manfaat luas bagi masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta menjadi contoh bahwa pembangunan masa depan tanpa mengorbankan sejarah bangsa,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pembangunan sektor perkeretaapian harus diperkuat melalui peningkatan investasi, terutama pada aspek keselamatan perjalanan kereta api di perlintasan sebidang.
“Kita harus investasi lebih banyak di bidang kereta api. Semua lintasan kereta api yang jumlahnya ribuan harus dibikin pintu-pintu yang baik dan otomatis sehingga tidak terjadi kecelakaan di mana-mana,” kata Prabowo.
Presiden menilai pelestarian stasiun bersejarah harus dijalankan bersamaan dengan transformasi sistem transportasi nasional yang lebih modern. Bangunan-bangunan bersejarah dinilai memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata sekaligus memperkuat identitas bangsa.
“Saya sangat gembira. Melestarikan stasiun (Tawang Semarang) bagian dari melestarikan sejarah, tetapi juga bagian dari transformasi bangsa. Transportasi masa depan kita ingin semuanya berbasis listrik, maka kita akan bangun energi hijau,” tandas Prabowo.
