Kekeringan mulai melanda Kelurahan Jabungan, Banyumanik, Kota Semarang. PMI Kota Semarang menyalurkan 5.000 liter air bersih setelah debit mata air pegunungan menurun.

Kekeringan mulai melanda Kelurahan Jabungan, Banyumanik, Kota Semarang. PMI Kota Semarang menyalurkan 5.000 liter air bersih setelah debit mata air pegunungan menurun.

FOLKSTIME.ID – Ancaman krisis air bersih mulai dirasakan warga Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, seiring menurunnya debit sumber mata air pegunungan yang selama ini menjadi andalan kebutuhan air minum. Kondisi yang berlangsung selama dua pekan terakhir itu membuat pasokan air bersih tidak lagi stabil dan berpotensi berdampak pada sekitar seribu warga apabila musim kemarau terus berlanjut.

Sebagai langkah penanganan darurat, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang menyalurkan 5.000 liter air bersih ke Masjid Al-Hidayah, Jabungan Sidoro RT 02 RW 03, Senin siang. Bantuan tersebut didistribusikan kepada warga yang mulai mengalami kesulitan memperoleh air layak konsumsi dengan melibatkan personel PMI, Polri, pemerintah kelurahan, pemerintah kecamatan, serta Pekerja Sosial Masyarakat.

Puluhan warga tampak mengantre sambil membawa galon, jeriken, dan berbagai wadah penampung air. Air bersih yang diangkut menggunakan mobil tangki terlebih dahulu dialirkan ke sejumlah tandon sebelum dibagikan kepada masyarakat yang telah menunggu sejak siang.

Warga Terpaksa Menghemat Air dan Menunggu Giliran

Warga RT 02 RW 03 Kelurahan Jabungan, Istikhoroh, mengatakan masyarakat selama ini masih memanfaatkan air Pamsimas untuk mandi dan mencuci. Namun air tersebut tidak dapat digunakan sebagai air minum karena mengandung zat besi sehingga kebutuhan konsumsi sehari-hari bergantung pada sumber mata air pegunungan.

“Warga selama ini masih menggunakan air Pamsimas untuk mandi dan mencuci karena airnya mengandung zat besi sehingga tidak layak diminum. Untuk kebutuhan minum kami mengandalkan sumber air pegunungan, tetapi sekitar dua minggu terakhir airnya sering mati dan kalau mengalir harus bergantian menampung,” kata Istikhoroh.

Menurutnya, seluruh anggota keluarga kini harus menghemat penggunaan air agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi. Bahkan, untuk mencuci barang berukuran besar, sebagian warga memilih memanfaatkan aliran sungai ketika debit air masih memungkinkan.

Ia berharap jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dapat segera diperluas hingga menjangkau RT 02 dan RT 03. Saat ini jaringan PDAM baru tersedia di RT 01 sehingga sebagian besar warga masih menggantungkan kebutuhan air minum dari mata air pegunungan yang debitnya mudah menyusut saat kemarau.

Jabungan Dinilai Paling Rentan Kekeringan di Banyumanik

Pelaksana Tugas Camat Banyumanik, Sri Martini, mengatakan Kelurahan Jabungan menjadi wilayah yang paling membutuhkan perhatian dalam penanganan kekeringan di Kecamatan Banyumanik. Karakteristik wilayah yang relatif tandus membuat sumber mata air lebih cepat mengalami penurunan debit ketika musim kemarau.

“Kelurahan Jabungan memang menjadi wilayah yang paling membutuhkan bantuan air bersih di Kecamatan Banyumanik. Kondisi geografisnya cukup tandus sehingga sumber air lebih cepat menyusut ketika musim kemarau. Karena itu kami terus melakukan pemetaan wilayah yang membutuhkan dropping air agar bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran,” ujar Sri Martini.

Menurutnya, pemerintah terus memetakan daerah yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih agar distribusi bantuan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran apabila kondisi kemarau semakin panjang.

Perluasan Jaringan PDAM Menjadi Solusi Jangka Panjang

Sri Martini menjelaskan, solusi jangka panjang yang terus diupayakan pemerintah adalah memperluas jaringan PDAM hingga menjangkau seluruh kawasan permukiman di Kelurahan Jabungan. Upaya tersebut dinilai lebih realistis dibanding pembangunan sumur baru karena kondisi tanah di wilayah tersebut relatif tandus dan sulit menghasilkan sumber air.

Koordinasi antara pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan, PMI Kota Semarang, aparat keamanan, dan berbagai pihak terkait juga terus dilakukan untuk memastikan distribusi bantuan air bersih dapat berlangsung selama musim kemarau. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat hingga pasokan dari sumber mata air pegunungan kembali normal.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID- Ratusan siswa SMKN 6 Semarang diduga mengalami keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (31/7). Gejala mulai dirasakan sekitar satu jam setelah makanan dibagikan. Sejumlah siswa mengeluhkan mual, diare, pusing hingga sakit perut. Beberapa siswa sempat mendapat penanganan di UKS sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan. Pihak sekolah bersama Dinas Kesehatan Kota Semarang langsung melakukan penanganan, sementara sampel makanan telah dibawa ke laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut. #folkstime #semarang #mbg #jateng #prabowo

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *