FOLKSTIME.ID — Penguatan kualitas pendidikan di Indonesia dinilai perlu dimulai dari keberanian pemerintah menempatkan guru sebagai investasi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia, bukan sekadar sebagai bagian dari sistem pendidikan. Pandangan tersebut disampaikan pengamat kebijakan sekaligus penulis Gita Wirjawan saat membedah buku What It Takes: Asia Tenggara, Dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global di Creative Space Gramedia Jalma Pandanaran Semarang, Jumat (14/8/2026).
Dalam bedah buku tersebut, persoalan pendidikan ditempatkan sebagai salah satu fondasi yang dinilai menentukan kemampuan Indonesia menghadapi persaingan global. Gita menilai perubahan kualitas sumber daya manusia tidak dapat dibentuk melalui kebijakan yang bersifat instan, tetapi harus ditopang investasi jangka panjang, terutama terhadap profesi guru.
Konteks itu menjadi bagian dari pembahasan Gita mengenai Asia Tenggara yang menghadapi sejumlah persoalan, mulai rendahnya produk domestik bruto (PDB) per kapita, kesenjangan pendidikan hingga tantangan keberlanjutan. Di tengah persoalan tersebut, kawasan Asia Tenggara yang dihuni sekitar 700 juta penduduk justru dinilai memiliki posisi strategis dalam tatanan dunia yang semakin multipolar.
“Untuk melembagakan intelektualisasi atau sistem pendidikan secara umum, ini harus disadari hanya bisa dilakukan dengan investasi di guru yang nyata bisa mengskalakan, mengmultiplikasi kecerdasan secara masif dibanding ketergantungan kita hanya pada orang tua,” ujar Gita kepada Espos, Jumat sore.
Menurut Gita, kapasitas keluarga dalam memberikan pendidikan dan membangun kemampuan intelektual anak tidak dapat disamaratakan. Karena itu, peran guru dinilai perlu diperkuat agar proses pembentukan kualitas generasi muda tidak hanya bergantung pada kemampuan masing-masing orang tua.
Perhatian lebih besar terhadap guru, menurut dia, juga perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan kompensasi. Rekalibrasi gaji guru disebut penting karena tingkat kesejahteraan sebuah profesi berkaitan dengan kemampuan untuk menarik orang-orang dengan talenta terbaik.
“Tidak bisa dipungkiri bahwa kompensasi dalam profesi apa pun itu berkorelasi dengan kapasitas untuk merekrut talenta yang terbaik,” kata Gita.
Ia menambahkan, pemerintah diharapkan tidak ragu mengevaluasi kembali skema kompensasi guru. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia.
“Jadinya kita selalu berharap pemerintah akan lebih mau menyikapi rekalibrasi kompensasi guru sebaik-baiknya,” imbuhnya.
Singapura kemudian disebut sebagai salah satu contoh yang dapat dijadikan pembanding dalam pembenahan kompensasi guru di kawasan Asia Tenggara. Menurut Gita, tingkat kompensasi guru di negara tersebut telah mencapai sekitar 4.000 dolar AS per bulan.
“Itu bisa menjadi acuan untuk negara-negara lain di Asia Tenggara termasuk Indonesia,” ujarnya.
“Singapura menjadi satu negara yang sudah memberikan kompensasi yang tinggi sekali untuk guru,” lanjut Gita.
Kesejahteraan guru, menurut dia, tidak seharusnya hanya dilihat dari sisi pendapatan. Peningkatan kompensasi dinilai dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi guru untuk berkonsentrasi pada tugas membentuk karakter, kapasitas berpikir, dan kemampuan generasi muda.
Gita bahkan menilai dukungan ekonomi terhadap guru dapat dikaitkan dengan kemampuan mereka dalam menanamkan sejumlah atribut penting kepada anak muda.
“Saya berkeyakinan kalau seorang guru dari Sabang sampai Merauke masing-masing kurang lebih Rp3,5 juta. Mereka akan lebih bisa menyuntik tiga atribut utama yang dibutuhkan untuk membuahkan kesuksesan di anak muda yaitu ambisi, imajinasi dan keberuntungan cerdas,” terangnya.
Pembahasan pendidikan tersebut menjadi bagian dari gagasan yang dibawa Gita melalui What It Takes: Asia Tenggara, Dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global. Buku tersebut membedah posisi Asia Tenggara dalam dinamika global dengan mempertemukan perspektif realisme dan aspirasi melalui dialog bersama cendekiawan, praktisi, serta sejumlah tokoh dunia.
Selain pendidikan dan kualitas sumber daya manusia, perhatian Gita juga diarahkan pada perubahan perilaku masyarakat akibat tingginya penggunaan perangkat digital. Waktu yang dihabiskan masyarakat bersama ponsel dinilai belum seluruhnya diarahkan untuk memperoleh pengetahuan yang substantif.
Menurut Gita, algoritma pada platform digital justru kerap memperkuat distribusi konten hiburan dan materi sensasional. Kondisi tersebut dinilai perlu dicermati karena perkembangan teknologi tidak otomatis menghasilkan peningkatan kualitas intelektual masyarakat.
Dengan demikian, penguatan pendidikan, peningkatan kesejahteraan guru, dan penggunaan teknologi secara lebih produktif dipandang sebagai bagian yang saling berkaitan dalam membangun sumber daya manusia Indonesia. Gagasan tersebut ditempatkan Gita sebagai investasi jangka panjang agar Indonesia tidak hanya menjadi bagian dari pertumbuhan Asia Tenggara, tetapi juga mampu mengambil posisi lebih kuat dalam persaingan global.(ril)













