FOLKSTIME.ID – Kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang, Kota Semarang, tak lagi sekadar persoalan api yang belum padam.
Memasuki hari kelima, asap kebakaran mulai berdampak langsung terhadap kesehatan warga.
Sebanyak 22 warga di tiga kelurahan dilaporkan mengalami gangguan pernapasan, mulai dari batuk hingga sesak napas setelah terpapar asap kebakaran TPA Jatibarang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro Pudyo Martantono, mengatakan puluhan warga tersebut tersebar di Kelurahan Kedungpane, Tambakaji dan Bambankerep.
“Sebanyak 22 orang mengalami masalah pernapasan seperti batuk dan sesak napas. Di Kelurahan Kedungpane 15 orang, Kelurahan Tambakaji dua orang dan Kelurahan Bambankerep lima orang,” ujar Endro, Minggu (4/10).
Kondisi tersebut menunjukkan dampak kebakaran TPA Jatibarang mulai meluas dari kawasan sumber api ke permukiman warga.
Terlebih, asap kebakaran dilaporkan berdampak terhadap kualitas udara di lima kecamatan, yakni Gunungpati, Mijen, Semarang Barat, Ngaliyan dan Tugu.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Handi Priyanto, mengatakan Pemkot Semarang telah membentuk tim gabungan lintas organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menangani kebakaran sekaligus menekan dampaknya terhadap masyarakat.
“Ini kita lakukan agar bisa mengurangi dampak bagi masyarakat, karena polusi udara dari asap hasil kebakaran,” kata Handi.
Api Belum Padam, Area Kebakaran Capai 10 Hektare
Di tengah munculnya dampak kesehatan warga, kebakaran TPA Jatibarang hingga Minggu masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
Berdasarkan pemantauan menggunakan drone sekitar pukul 09.30 WIB, Endro menyebut area yang masih terbakar sekitar 20 persen.
Meski demikian, sejumlah titik api mulai berkurang. Secara keseluruhan, area terdampak kebakaran meliputi zona 1 dan 2 dengan luas sekitar delapan hektare serta zona 3 sekitar dua hektare.
“Api belum padam dan penanganan masih berlangsung. Titik api cenderung berkurang di beberapa titik. Penanganan terus dilakukan pada area terbakar, dengan fokus pemadaman, pendinginan, dan pengendalian agar api tidak meluas,” jelas Endro.
Pemadaman dilakukan dengan mengerahkan armada Damkar, alat berat dan armada penyuplai air.
Di zona 1, tiga unit Damkar melakukan penyemprotan dari atas. Sedangkan sisi kiri zona 3 ditangani dua unit Damkar melalui injeksi air, pengerukan dan pendinginan.
Sementara sisi kanan zona 3 ditangani tiga unit Damkar melalui penyemprotan dengan dukungan alat berat.
Sebanyak delapan armada penyuplai air turut dikerahkan ke lokasi.Namun, proses pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala.
“Kendala-kendala proses pemadaman yakni lokasi titik api yang sulit dijangkau, akses jalan yang sempit dan titik api cepat tersebar,” ungkap Endro.
Air Disuntikkan ke Tumpukan Sampah
Pemkot Semarang kini mengintensifkan pemadaman dengan metode injeksi air. Air disuntikkan langsung ke dalam tumpukan sampah hingga kedalaman sekitar lima sampai 10 meter.
Cara tersebut dilakukan untuk menjangkau titik api yang berada di dalam tumpukan sampah dan sulit dipadamkan hanya dengan penyiraman dari permukaan.
Selain injeksi, armada Damkar juga melakukan penyiraman dari atas untuk menekan asap dan mengurangi potensi polusi udara yang berdampak kepada masyarakat.
Handi mengatakan, Pemkot Semarang juga telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait opsi penanganan lanjutan.
“Termasuk kemungkinan penggunaan water bombing maupun rekayasa cuaca,” ujarnya.
Pemkot Siapkan Hidran untuk Cegah Kebakaran Berulang
Persoalan TPA Jatibarang tidak berhenti pada pemadaman kebakaran. Pemkot Semarang mulai menyiapkan langkah jangka panjang agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan dampak luas terhadap warga.
Salah satunya dengan menyiapkan tempat penampungan air cadangan serta jalur hidran di kawasan TPA Jatibarang. Fasilitas tersebut nantinya memungkinkan penyiraman dilakukan secara berkala, terutama untuk mengantisipasi akumulasi gas metana di dalam tumpukan sampah.
“Jadi secara berkala bisa dilakukan penyiraman. Lalu ada juga pembuatan jalur hidran agar DLH bisa menyiram secara berkala, karena gas metana di tumpukan sampah bisa hilang dengan air,” tandas Handi.(Rin)













