FOLKSTIME.ID — Pemerintah Kota Semarang mulai menyiapkan langkah untuk meninggalkan sistem pembuangan sampah secara terbuka di tempat pembuangan akhir (TPA). Salah satu langkah awalnya adalah menutup timbunan sampah yang saat ini masih menggunung.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, penutupan timbunan dilakukan untuk mengurangi dampak lingkungan sebelum pengelolaan sampah dengan metode baru diterapkan.
“Nomor satu, sampah yang hari ini ada di TPA ditutup. Walaupun belum memenuhi standar, tapi setidaknya ini mengurangi dampak,” kata Agustina, Selasa (1/9).
Menurut Agustina, timbunan sampah terbuka menimbulkan sejumlah persoalan, mulai dari bau hingga produksi gas metana.
“Karena ada gas metan, ada bau dan lain sebagainya,” ujarnya.
Pemkot Semarang Uji Biodekomposer untuk Kurangi Bau
Selain menutup timbunan, Pemkot Semarang juga menguji penggunaan biodekomposer untuk menekan bau yang berasal dari tumpukan sampah.
Agustina mengatakan, uji coba sebelumnya sudah menunjukkan hasil, meski belum signifikan.
“Kita sedang mencoba biodekomposer supaya baunya ini tidak begitu masif. Kita coba kemarin lumayanlah. Menurunkan 15 persen bau,” jelasnya.
Pemkot Semarang kini mengevaluasi metode penyemprotan. Biodekomposer nantinya tidak hanya disemprotkan di titik tertentu, tetapi diupayakan menjangkau area timbunan secara lebih luas.
“Ini mungkin kurang besar atau metodenya yang akan diubah supaya yang dikasih biodekomposer itu tidak hanya di pojok baunya, tapi di tumpukan sampahnya,” kata Agustina.
Untuk itu, Pemkot Semarang mempertimbangkan penggunaan alat penyemprot yang mampu menjangkau bagian atas timbunan.
“PR-nya adalah mau pakai alat yang naik, kemudian semprotannya ditarik kayak drone itu, atau kita mau pakai tali,” ungkapnya.
Penanganan Ditargetkan Dimulai Pekan Depan
Agustina menargetkan metode tersebut segera diterapkan. Menurutnya, penanganan harus dilakukan sebelum curah hujan meningkat karena kondisi timbunan akan semakin sulit ditangani.
“Minggu depan semuanya harus dilaksanakan. Kenapa? Karena kalau sudah terlanjur hujan, selesai sudah,” tegas Agustina.
Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan Pemkot Semarang untuk mengubah sistem pengelolaan sampah di TPA.
3,5 Juta Ton Sampah Bakal Diolah dengan Pirolisis
Di tengah upaya mengurangi timbunan, Pemkot Semarang juga mendapat dukungan untuk mengolah sampah dalam jumlah besar menggunakan teknologi pirolisis.
Agustina mengatakan, bantuan dari Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) diarahkan untuk menangani sekitar 3,5 juta ton sampah yang masih menumpuk di TPA.
“Ada bantuan dari KSAD untuk memakan 3,5 juta ton sampah yang berhenti di sana itu untuk menjadi pirolisis,” ujarnya.
Menurutnya, proses tersebut nantinya menghasilkan material landfill. Pengolahan menggunakan pirolisis diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi volume timbunan sampah sekaligus mengubah pola pengelolaan sampah di Kota Semarang.
Dengan langkah tersebut, Pemkot Semarang tidak hanya berupaya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menekan dampak lingkungan yang muncul dari sistem pembuangan terbuka. (Rin)













