FOLKSTIME.ID — Sejarah, budaya, kuliner hingga karakter masyarakat Kota Semarang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi karya kreatif bernilai ekonomi. Kekayaan cerita tersebut dapat menjadi bahan bagi generasi muda untuk menciptakan film, animasi, komik, gim, desain hingga konten digital.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengatakan, kreativitas anak muda pada dasarnya berangkat dari gagasan dan narasi yang hidup di tengah masyarakat. Jika dikembangkan secara serius, narasi tersebut dapat menjadi intellectual property (IP) sekaligus membuka peluang masuk ke industri kreatif.
Hal itu disampaikan Agustina saat menjadi narasumber Semarang Creative City Forum dalam rangkaian Semarang IP Summit 2026 di BINUS @Semarang, Sabtu (26/9).
Forum tersebut mengangkat tema “Mendorong Pertumbuhan Ekonomi melalui Kreativitas, Digitalisasi dan Intellectual Property”.
Sejarah dan Budaya Semarang Jadi Sumber Ide
Agustina menyebut Semarang memiliki banyak cerita yang dapat didekatkan dengan generasi muda. Cerita tersebut tidak hanya berasal dari sejarah, tetapi juga budaya, kuliner, kawasan Kota Lama dan berbagai identitas yang berkembang di masyarakat.
Menurutnya, kekayaan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam berbagai medium kreatif sehingga memiliki bentuk baru yang lebih dekat dengan perkembangan zaman.
“Kalau kita membayangkan seorang anak-anak muda yang membuat karakter komik misalnya, menciptakan gim atau membuat film dengan teknologi tertentu atau secara manual sebenarnya dia sedang membangun sebuah narasi. Nah, narasi itu adalah narasi yang hidup,” ungkap Agustina.
Ia menilai tantangannya adalah bagaimana cerita yang ada di Kota Semarang dapat dipertemukan dengan kreativitas generasi muda.
“Kota Semarang ini memiliki banyak cerita. Tinggal bagaimana cerita-cerita itu kita dekatkan dengan anak-anak muda, lalu mereka punya ruang untuk mengolahnya menjadi karya,” ujarnya.
Dari Karya Kreatif Menuju Intellectual Property
Pengembangan karya, kata Agustina, tidak cukup berhenti pada proses menghasilkan produk kreatif. Karya tersebut perlu dikembangkan agar memiliki perlindungan, produk turunan dan akses terhadap pasar.
Karena itu, terdapat empat unsur yang dinilai penting dalam membangun ekosistem tersebut, yakni talenta, IP, industri dan pasar.
Talenta menjadi sumber lahirnya gagasan, IP memberikan perlindungan terhadap karya, industri menjadi ruang pengembangan produk, sedangkan pasar membuka peluang agar karya dapat memiliki nilai ekonomi.
“Mari kita ubah kreativitas menjadi karya dan karya menjadi IP, lalu menjadi industri yang membawa kesejahteraan,” ajak Agustina.
Ekosistem Ekonomi Kreatif Semarang Terus Dikembangkan
Kota Semarang telah memiliki landasan pengembangan ekonomi kreatif melalui Perda Nomor 12 Tahun 2021 dan Perwal Nomor 74 Tahun 2023.
Penguatan ekosistem juga dilakukan melalui berbagai ruang kolaborasi, seperti Semarang Digital Kreatif, SECCON, serta Lawang Sewu Short Film Festival 2026.
Ruang-ruang tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan pelaku kreatif, gagasan, teknologi dan peluang pengembangan industri.
Semarang IP Summit 2026 Hadirkan Beragam Agenda
Semarang IP Summit 2026 berlangsung pada 26–27 September. Sejumlah agenda disiapkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari IP Expo, kompetisi, IP Screening & Coaching, workshop, business matching, pitching hingga forum industri.
Rangkaian kegiatan itu menjadi ruang bagi pelaku dan generasi muda kreatif untuk mengembangkan gagasan sekaligus membuka peluang kolaborasi.
Agustina berharap Semarang dapat terus menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas anak muda. Karya yang lahir dari kota tersebut diharapkan tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa identitas Semarang ke ruang yang lebih luas.
“Kota Semarang adalah rumah kita bersama, terbuka untuk kreativitas. Kita jadikan Kota Semarang sebagai tempat kreativitas untuk menemukan masa depannya,” pungkas Agustina.













