Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng meluncurkan program GASPOL SONIK (Gerakan Satu Rumah Satu Biopori) di Kelurahan Pudakpayung.

Program ini mendorong pengelolaan sampah organik menjadi kompos, memperluas biopori hingga 750 titik pada 2027, sekaligus menjadikan Pudakpayung sebagai sentra hortikultura dan destinasi wisata alam baru Kota Semarang.

FOLKSTIME.ID – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti meluncurkan program GASPOL SONIK (Gerakan Satu Rumah Satu Biopori) sebagai inovasi pengelolaan sampah organik berbasis rumah tangga di Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Minggu (26/7). Program tersebut menjadi langkah Pemerintah Kota Semarang dalam mengurangi timbunan sampah sekaligus meningkatkan daya resap air untuk menekan risiko genangan banjir.

Melalui program ini, setiap rumah didorong memiliki lubang biopori sebagai media pengolahan sampah organik menjadi kompos. Selain itu, masyarakat juga diimbau menghentikan kebiasaan membakar sampah dan mulai mengelola limbah organik secara mandiri dari lingkungan terkecil.

“Hari ini kita meluncurkan inovasi program GASPOL SONIK, Gerakan Satu Rumah Satu Biopori untuk pengelolaan sampah organik. Sekarang sampah itu enggak boleh dibakar. Jadi sampah yang khusus organik itu harus dibuatkan lubang supaya nanti jadi kompos,” ujar Agustina.

Pudakpayung Diproyeksikan Jadi Sentra Hortikultura

Selain fokus pada pengelolaan lingkungan, Pemerintah Kota Semarang juga menyiapkan Pudakpayung sebagai kawasan percontohan pertanian perkotaan melalui budidaya tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, dan terong.

Untuk mendukung program tersebut, Dinas Pertanian Kota Semarang akan menerjunkan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang bertugas memberikan pendampingan kepada warga mulai dari proses penanaman hingga masa panen agar hasil produksi dapat terjaga.

“Harapannya Pudakpayung menjadi pusat percontohan untuk tanam cabai bagi warga. Kalau saya beri benih cabai, ditanam tapi harus sampai berbuah. Setelah itu hasilnya saya beli untuk Kempling Semar. Hasilnya nanti masuk ke kas RT,” kata Agustina.

Skema tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas masyarakat sekaligus memberikan nilai ekonomi tambahan bagi lingkungan melalui pemanfaatan hasil panen.

Target 750 Titik Biopori pada 2027

Pelaksanaan program GASPOL SONIK di Pudakpayung telah menunjukkan perkembangan. Saat ini terdapat sekitar 90 titik biopori yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat dan 65 titik tambahan melalui bantuan Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang.

Pemerintah Kota Semarang menargetkan setiap RT memasang sedikitnya lima titik biopori dengan memanfaatkan Bantuan Operasional RT. Melalui strategi tersebut, jumlah biopori ditargetkan mencapai sekitar 750 titik secara akumulatif hingga tahun 2027.

Program ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir sekaligus memperkuat upaya konservasi air di kawasan permukiman.

Gebyar Pesona Pudakpayung Angkat UMKM hingga Wisata Alam

Peluncuran GASPOL SONIK menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Gebyar Pesona Pudakpayung bertema “PAYUNG MASSE” (Pudakpayung Maju, Aman, Sehat, Sejahtera).

Berbagai kegiatan turut digelar dalam acara tersebut, mulai dari senam bersama, bazar UMKM dari RW I hingga RW XVI, pameran ecoprint, pelatihan bank sampah, hingga pertunjukan seni budaya lokal.

Dalam kesempatan itu, Agustina juga meninjau kawasan wisata alam Kedung Boto yang dikembangkan sebagai destinasi wisata baru di Kota Semarang.

“Ini kedung keempat yang kita buka. Ini akan jadi destinasi tambahan untuk Kota Semarang. Potensi wisata alam yang luar biasa, ternyata ada hidden gem,” tandasnya.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME – Presiden Prabowo Subianto menyebut masih ada kelompok yang berperan sebagai “londo ireng” modern, yakni istilah yang pada masa kolonial merujuk pada pribumi yang bekerja untuk kepentingan penjajah Belanda. Pernyataan itu disampaikan saat memberikan sambutan dalam Peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center, Kamis (23/7/2026). Dalam pidatonya, Prabowo menyebut kelompok tersebut kini mengenakan “pakaian baru” sebagai wartawan, jurnalis, pengamat, ekonom, hingga LSM yang dinilainya lebih mengabdi pada kepentingan asing daripada kepentingan nasional. Ia juga mempertanyakan sumber pendanaan mereka, termasuk pihak yang membayar gaji, listrik, hingga telepon seluler. Prabowo turut menyinggung media yang menurutnya lebih sering mengangkat pemberitaan negatif, seperti menyoroti satu sekolah rusak, meski pemerintah mengklaim telah memperbaiki puluhan ribu sekolah lainnya. Meski demikian, Prabowo menegaskan pemerintah tidak antikritik dan tetap menghormati demokrasi. Pernyataan tersebut memicu beragam respons. Politikus PDIP Guntur Romli menilai penggunaan istilah tersebut berpotensi mengganggu iklim demokrasi karena kritik publik dapat dipersepsikan sebagai bentuk pengkhianatan. Sementara itu, Amnesty International mengingatkan narasi “antek asing” berisiko menjadi bentuk pembungkaman terhadap kritik yang disampaikan masyarakat sipil. Sumber Video : Youtube PKB #folkstime #prabowo #presiden #jurnalis #viral

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *