FOLKSTIME.ID — Pasar otomotif Jawa Tengah kembali menjadi perhatian industri seiring penyelenggaraan GIIAS Semarang 2026. Tahun ini, sebanyak 19 merek kendaraan dijadwalkan ambil bagian dalam pameran otomotif tersebut, meningkat signifikan dibandingkan awal GIIAS hadir di Kota Semarang.
Dari jumlah tersebut, 18 merek merupakan kendaraan penumpang dan satu merek berasal dari kendaraan roda dua. Selain itu, sebanyak 22 industri pendukung otomotif turut dilibatkan untuk memperlihatkan perkembangan ekosistem otomotif di Jawa Tengah.
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, mengatakan Jawa Tengah memiliki posisi penting dalam pasar kendaraan bermotor nasional.
Hingga April 2026, penjualan kendaraan bermotor di Jawa Tengah tercatat sekitar 14.195 unit. Angka tersebut menempatkan Jawa Tengah pada posisi kelima secara nasional dalam kontribusi penjualan kendaraan.
“Industri otomotif di Indonesia dan juga di Jawa Tengah itu tercatat berada posisi kelima secara nasional dengan angka penjualan sampai bulan April sekitar 14.195 unit,” kata Kukuh dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).
Dari 9 Merek Kini Menjadi 19 Merek
Pertumbuhan jumlah peserta menjadi salah satu perubahan yang terlihat dalam perjalanan GIIAS Semarang. Pada penyelenggaraan awal, hanya sekitar sembilan merek yang mengikuti pameran.
Kini, jumlah tersebut meningkat menjadi 19 merek.
“Di awal penyelenggaraan GIIAS di Semarang waktu itu ada kurang lebih sembilan brand yang ikut. Kalau kita lihat sekarang kurang lebih hampir 20 brand yang ikut di GIIAS Semarang,” ujarnya.
Peningkatan peserta juga memperluas pilihan kendaraan yang dapat dilihat langsung masyarakat Jawa Tengah. Sebanyak tujuh kendaraan baru akan diperkenalkan dalam penyelenggaraan tahun ini.
Kendaraan tersebut berasal dari kategori kendaraan penumpang dan roda dua, termasuk sejumlah model yang sebelumnya telah diperkenalkan dalam rangkaian GIIAS di kota lain.
Tujuh Kendaraan Baru Dipamerkan
Kukuh mengatakan GIIAS Semarang menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat sekaligus mengeksplorasi berbagai model dan teknologi kendaraan terbaru.
“GIIAS Semarang 2026 memberikan kesempatan bagi masyarakat Jawa Tengah, khususnya Semarang dan sekitarnya, untuk eksplorasi serta mencoba langsung deretan kendaraan model terbaru yang telah meluncur pada GIIAS BSD City, GIIAS Surabaya dan GIIAS Bandung,” katanya.
Kehadiran 22 industri pendukung juga menjadi bagian dari pameran. Industri tersebut memperlihatkan bahwa sektor otomotif tidak hanya berkaitan dengan produsen kendaraan, tetapi juga melibatkan rantai pasok dan berbagai sektor pendukung lainnya.
Pasar Otomotif Nasional Mulai Bergerak
Peningkatan peserta GIIAS Semarang berlangsung di tengah kondisi pasar otomotif nasional yang masih menghadapi tantangan.
Data yang disampaikan Kukuh menunjukkan penjualan wholesale kendaraan secara nasional pada 2025 berada di kisaran 803 ribu unit, lebih rendah dibandingkan sekitar 835 ribu unit pada 2024.
Namun, perbaikan penjualan mulai terlihat hingga Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Memang ini juga di tengah kondisi yang katanya sedang sulit, namun alhamdulillah di industri otomotif itu tahun ini kita ada perbaikan, walaupun kita ingin kembali sepenuhnya seperti dua atau tiga tahun sebelumnya,” ujar Kukuh.
Jawa Tengah berada di bawah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Jawa Timur dalam kontribusi penjualan kendaraan secara nasional.
Menurut Kukuh, keberadaan berbagai industri pendukung serta berkembangnya kawasan industri di Jawa Tengah turut menjadi bagian dari ekosistem yang menopang industri otomotif nasional.
“Tidak bisa kita pungkiri bahwa di Jawa Tengah pun banyak industri-industri pendukung yang digunakan oleh industri otomotif nasional kita. Dan ini terus berkembang dengan munculnya zona-zona industri eksklusif yang ada di Jawa Tengah,” katanya.
GIIAS Diharapkan Dongkrak Penerimaan Daerah
Dari sisi pemerintah daerah, pameran otomotif tersebut juga berkaitan dengan potensi transaksi kendaraan dan penerimaan daerah.
Kepala Bappeda Provinsi Jawa Tengah Muhamad Masrofi mengatakan realisasi pendapatan hingga akhir Agustus 2026 telah mencapai sekitar 64 persen.
“Pendapatan kita sudah mulai naik, sekarang baru bulan akhir Agustus itu sudah 64 persen,” kata Masrofi.
Pemerintah daerah memproyeksikan penerimaan dari sektor yang berkaitan dengan kendaraan bermotor dapat mencapai sekitar 93 persen. Masrofi berharap aktivitas perdagangan kendaraan selama GIIAS dapat mendorong capaian tersebut lebih tinggi.
PKB Turun, BBNKB Disebut Mengalami Kenaikan
Masrofi menjelaskan penerimaan daerah yang berkaitan dengan kendaraan bermotor antara lain berasal dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).
Menurut dia, penerimaan PKB cenderung mengalami penurunan, sementara BBNKB mengalami peningkatan.
“Pajak kendaraan bermotor agak turun, tapi BBNKB-nya naik. Semoga saja dengan ini ada keseimbangan,” ujarnya.
Ia menilai bertambahnya merek peserta GIIAS Semarang dari sekitar sembilan menjadi 19 memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen. Transaksi kendaraan baru juga diharapkan memberikan kontribusi terhadap penerimaan daerah.
“Dengan kehadiran pameran GIIAS yang ada di Semarang itu semakin menambah gairah orang untuk dapat membeli kendaraan bermotor. Yang kedua, pameran yang tahun lalu sekitar sembilan, sekarang jadi 19, pilihan masyarakat menjadi banyak,” katanya.
Kendaraan Listrik Masih Mendapat Relaksasi Fiskal
Perkembangan kendaraan listrik turut menjadi perhatian dalam pembahasan otomotif di Jawa Tengah. Masrofi menyebut kendaraan listrik saat ini belum memberikan kontribusi terhadap penerimaan tertentu karena masih mendapatkan relaksasi atau insentif fiskal.
“Kalau kendaraan listrik, Bapak Ibu sekalian, tidak ada kontribusi satupun untuk sekarang. Karena masih ada relaksasi insentif fiskal nol,” katanya.
Meski demikian, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan tetap mendukung kebijakan pemerintah pusat terkait pengembangan kendaraan listrik maupun kendaraan konvensional.
“Karena program pemerintah tetap kita dukung sepenuhnya. Kegiatan penjualan kendaraan yang konvensional maupun kendaraan listrik, kebijakan dari pusat terus akan kita lanjutkan,” pungkas Masrofi. (wts)













