
Di tengah ketidakpastian harga BBM, mobil Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) mulai menjadi pilihan masyarakat.
FOLKSTIME.ID — Teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) mulai diposisikan sebagai solusi efisiensi biaya berkendara di tengah fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) yang masih memengaruhi pengeluaran pemilik kendaraan di Indonesia.
Kendaraan PHEV dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang menginginkan konsumsi bahan bakar lebih hemat tanpa harus sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik murni. Teknologi tersebut menggabungkan motor listrik, baterai berkapasitas besar, dan mesin bensin dalam satu sistem penggerak yang dapat digunakan secara bergantian.
Di Jawa Tengah, dominasi kendaraan berbahan bakar bensin atau Internal Combustion Engine (ICE) masih tercatat mencapai 80,3 persen, sedangkan di Kota Semarang berada di kisaran 75,5 persen. Namun, meningkatnya biaya operasional akibat perubahan harga BBM membuat alternatif kendaraan yang lebih efisien mulai banyak dicari masyarakat.
Head of Product PT BYD Motor Indonesia, Bobby Bharata, mengatakan teknologi PHEV dihadirkan sebagai jembatan menuju era elektrifikasi kendaraan tanpa menghilangkan fleksibilitas penggunaan mesin bensin.
“Bahasa sederhananya, kendaraan PHEV bisa dicas dan bisa diisi bensin. Jadi pengguna mendapatkan fleksibilitas lebih tinggi tanpa perlu khawatir jika belum menemukan stasiun pengisian daya,” kata Bobby Bharata di Semarang, Rabu (17/6/2026).
Menurut dia, kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap ketersediaan infrastruktur pengisian daya dan jarak tempuh kendaraan listrik murni masih menjadi salah satu tantangan dalam percepatan elektrifikasi kendaraan.
“PHEV hadir sebagai opsi. Bagi masyarakat yang belum siap langsung menggunakan kendaraan listrik murni, teknologi ini bisa menjadi langkah awal menuju elektrifikasi,” ujarnya.
Motor Listrik Jadi Penggerak Utama
Pada kendaraan PHEV, tenaga penggerak utama disebut lebih banyak disuplai oleh motor listrik. Sementara mesin bensin difungsikan sebagai pendukung ketika dibutuhkan tenaga tambahan atau saat kapasitas baterai menurun.
Penggunaan tenaga listrik dapat dimaksimalkan untuk aktivitas harian di wilayah perkotaan sehingga konsumsi bahan bakar dapat ditekan lebih rendah dibanding kendaraan konvensional.
“Saat pengemudi membutuhkan akselerasi lebih besar, seperti ketika menyalip kendaraan lain atau melintasi tanjakan, mesin bensin akan aktif secara otomatis untuk membantu sistem,” jelas Bobby.
Teknologi regenerative braking juga telah disematkan pada sistem kendaraan. Energi yang dihasilkan saat pengereman maupun ketika melintasi jalan menurun akan dikonversi kembali menjadi listrik dan disimpan ke dalam baterai.
Dengan mekanisme tersebut, penggunaan bahan bakar dapat dikurangi secara signifikan karena sebagian besar perjalanan dilakukan menggunakan tenaga listrik.
Diklaim Hemat Biaya Operasional Hingga 77 Persen
Efisiensi biaya operasional menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan kendaraan PHEV. Melalui teknologi Dual Mode (DM), penghematan biaya perjalanan diklaim dapat dicapai dibanding kendaraan berbahan bakar bensin pada jarak tempuh yang sama.
“Teknologi Dual Mode mampu memberikan penghematan biaya operasional hingga sekitar 60 persen dibanding kendaraan berbahan bakar bensin,” ungkap Bobby.
Bahkan, berdasarkan pengujian yang dilakukan bersama sejumlah jurnalis di Jawa Tengah, efisiensi biaya operasional disebut dapat mencapai sekitar 77 persen karena konsumsi bensin yang digunakan sangat minim.
Selain efisiensi, kemampuan menjangkau perjalanan jarak jauh juga dinilai menjadi nilai tambah bagi pengguna yang belum sepenuhnya yakin menggunakan kendaraan listrik murni.
“Ketika daya baterai habis, kendaraan tetap dapat melanjutkan perjalanan menggunakan mesin bensin tanpa harus mencari stasiun pengisian daya,” katanya.
Menurut Bobby, kombinasi pengalaman berkendara layaknya mobil listrik dengan fleksibilitas penggunaan bensin membuat PHEV kerap disebut sebagai teknologi transisi menuju kendaraan listrik penuh.
“PHEV bukan sekadar kendaraan hemat bahan bakar. Teknologi ini menjadi jembatan yang mempertemukan kebutuhan efisiensi, kenyamanan, dan kesiapan masyarakat menuju era kendaraan elektrifikasi,” tegasnya.
Layanan Purna Jual Disiapkan
Selain efisiensi energi, kesiapan layanan purna jual juga disebut menjadi faktor penting yang dipertimbangkan konsumen sebelum membeli kendaraan berteknologi elektrifikasi.
Head of After Sales PT BYD Motor Indonesia, Ubaedillah, mengatakan jaringan servis dan ketersediaan suku cadang terus diperkuat untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan PHEV.
Menurut dia, biaya perawatan kendaraan PHEV juga dirancang lebih efisien karena interval servis dibuat lebih panjang dibanding kendaraan konvensional.
“Interval servis yang lebih panjang membuat biaya perawatan menjadi lebih efisien dibanding kendaraan konvensional,” ujar Ubaedillah.
Ia menjelaskan, pada kendaraan BYD M6 DM, perawatan berkala dilakukan setiap satu tahun atau 20.000 kilometer berdasarkan odometer, serta setiap 10.000 kilometer berdasarkan jam kerja mesin atau HMV, tergantung mana yang tercapai lebih dahulu.
Hingga saat ini, lebih dari 100 jaringan dealer BYD telah dioperasikan di Indonesia dan seluruhnya telah dilengkapi fasilitas layanan purna jual.
“Jumlah jaringan akan terus bertambah seiring perkembangan pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia,” kata Ubaedillah.
Selain memperluas jaringan servis, gudang suku cadang berskala besar juga telah disiapkan untuk memastikan ketersediaan komponen bagi konsumen di berbagai daerah.
Di tengah ketidakpastian harga BBM dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap efisiensi energi serta pengurangan emisi, kendaraan PHEV diperkirakan akan menjadi salah satu segmen yang semakin diminati dalam beberapa tahun mendatang.(tya)

1 thought on “Harga BBM Tak Menentu, Mobil PHEV Jadi Solusi Baru: BYD Klaim Biaya Operasional Bisa Hemat hingga 77 Persen”