
Haul KH Abu Na'im di Penggaron mengungkap sejarah ulama perintis penyebaran Islam, pendiri masjid, pencetak santri, hingga melahirkan pejuang kemerdekaan Indonesia.
FOLKSTIME.ID – Jejak perjuangan KH Abu Na’im sebagai perintis penyebaran Islam di kawasan Penggaron, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, kembali ditegaskan dalam peringatan haul yang digelar bertepatan dengan 25 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Kiprah ulama tersebut dinilai telah meletakkan fondasi lahirnya kawasan pendidikan Islam yang hingga kini berkembang menjadi salah satu sentra pesantren di Kota Semarang.
Peran KH Abu Na’im dalam membangun tradisi keagamaan di Penggaron disebut tidak hanya meninggalkan bangunan fisik berupa masjid, tetapi juga melahirkan jaringan dakwah, pendidikan Islam, dan kader ulama yang terus berlanjut lintas generasi. Warisan itu masih dapat disaksikan melalui berkembangnya pondok pesantren serta kehidupan religius masyarakat setempat.
Riwayat perjuangan ulama asal Dukuh Godo, Desa Jamus, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, tersebut juga dinilai menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan Islam di wilayah timur Kota Semarang. Sejumlah peninggalan dakwah yang dirintis sejak akhir abad ke-19 masih dipertahankan sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat.
“KH Abu Na’im adalah fondasi awal syiar Islam di Penggaron. Apa yang kita lihat hari ini, mulai dari masjid, mushala, hingga pondok pesantren, tidak bisa dilepaskan dari jejak dakwah beliau,” kata Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PCNU Kota Semarang, Dr. M. Kholidul Adib, Kamis (26/6/2026).
Dijelaskan, KH Abu Na’im dilahirkan sekitar tahun 1850 dari keluarga ulama yang memiliki silsilah keilmuan panjang hingga Ki Ageng Pandanaran dan bersambung kepada Nabi Muhammad SAW. Lingkungan keluarga tersebut disebut telah membentuk karakter keilmuan sekaligus semangat perjuangan sejak usia muda.
Ayahnya, KH Ismail, dikenal sebagai tokoh agama yang aktif menyebarkan Islam dan mendirikan Masjid Godo pada 1835. Selain berdakwah, KH Ismail juga disebut pernah bergabung dalam perjuangan bersama pasukan Pangeran Diponegoro melawan kolonial Belanda.
“Latar belakang keluarga inilah yang membentuk karakter keilmuan dan perjuangan KH Abu Na’im sejak usia dini,” ujar Kholidul Adib.
Setelah menikah dengan Hj Khodijah, KH Abu Na’im menetap di kawasan Penggaron yang ketika itu masih berupa hutan dengan jumlah penduduk terbatas. Dari kawasan tersebut, dakwah Islam mulai dikembangkan melalui pendekatan yang mengedepankan pembinaan masyarakat secara bertahap.
Pada masa awal penyebaran Islam, sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi pra-Islam dan berbagai ritual kepercayaan lokal. Kondisi tersebut tidak dihadapi melalui konfrontasi, melainkan dengan pendekatan persuasif yang dilakukan secara berkesinambungan.
“Beliau tidak memulai dari konfrontasi, tetapi dari pendekatan yang merangkul. Masjid menjadi titik awal transformasi masyarakat,” tuturnya.
Masjid pertama yang dibangun kemudian dikenal sebagai Masjid Baitun Naim. Selain di Penggaron, pembangunan masjid juga dilakukan di sejumlah wilayah lain, seperti Bandungrejo, Mranggen, Bangetayu, hingga Karanganyar. Dari masjid-masjid tersebut, aktivitas pendidikan agama dan pembinaan santri terus berkembang.
Komitmen spiritual KH Abu Na’im juga ditunjukkan melalui keberangkatannya menunaikan ibadah haji bersama tujuh anggota keluarganya. Perjalanan panjang menuju Tanah Suci yang ketika itu memerlukan waktu sekitar tujuh bulan dibiayai dengan menjual sebagian tanah miliknya.
“Itu menunjukkan betapa besar pengorbanan dan kesungguhan beliau dalam menjalankan ibadah serta meneladani perjalanan spiritual umat Islam,” ungkap Kholidul Adib.
Selain dikenal sebagai ulama dan pendidik, KH Abu Na’im juga menjalankan peran sosial sebagai tabib sunat di tengah keterbatasan layanan kesehatan pada masanya. Aktivitas dakwah yang dilakukan tidak hanya difokuskan pada pengajaran syariat, tetapi juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sosial masyarakat.
Semangat perjuangan tersebut kemudian diwariskan kepada generasi penerus. Putra dan menantunya, KH Zaini serta KH Thohir, tercatat ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada masa revolusi 1945–1946. Rumah keluarga KH Abu Na’im bahkan pernah difungsikan sebagai markas perjuangan hingga beberapa kali diserbu penjajah.
“Rumah itu beberapa kali diserbu hingga hancur. Bahkan tiga lemari berisi kitab-kitab berharga ikut musnah. Namun, semangat perjuangan tidak pernah padam,” katanya.
Perjuangan dakwah kemudian diteruskan oleh anak, cucu, dan keturunannya melalui pendirian berbagai pondok pesantren di Penggaron dan sekitarnya. Di antaranya Pondok Pesantren At-Thohiriyah, Syaroful Millah, Al-Hikmah, Nurul Hidayah, Azzahro, hingga Bustanu Usyaqil Qur’an (BUQ).
Menurut Kholidul Adib, warisan terbesar KH Abu Na’im bukan semata bangunan fisik, melainkan lahirnya generasi santri dan tradisi keilmuan Islam yang terus berkembang di tengah masyarakat.
“Beliau berhasil meninggalkan sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan keturunan saleh yang meneruskan perjuangan. Itu yang membuat namanya tetap hidup dalam sejarah masyarakat Penggaron,” tegasnya.
Sebagai upaya mendokumentasikan kontribusi ulama lokal, LTN PCNU Kota Semarang saat ini tengah menyusun biografi KH Abu Na’im dalam edisi kedua buku biografi ulama Semarang. Program tersebut merupakan kelanjutan dari penerbitan buku edisi pertama pada Oktober 2025 yang memuat 43 tokoh ulama berpengaruh di Kota Semarang.(mus)

1 thought on “Haul KH Abu Na’im Ungkap Jejak Ulama Perintis yang Mengislamkan Penggaron, Warisannya Masih Hidup hingga Kini”