FOLKSTIME.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Perhutani, Desa Kaliguwo, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, belum sepenuhnya padam. Tim gabungan masih berjibaku mengendalikan api yang membakar petak 13.F dan 13.G.
Kebakaran terjadi di wilayah BKPH Kedu Selatan, RPH Ngadisono, KPH Purworejo. Api pertama kali dilaporkan muncul pada Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 20.00 WIB.
Luas kawasan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 4 hingga 7 hektare. Penanganan melibatkan berbagai unsur, termasuk Banser Siaga Bencana (Bagana) X-23 Wonosobo, BPBD, TNI, Polri, Perhutani, pemerintah desa, warga, dan relawan.
Tim Gabungan Gunakan Tiga Metode Padamkan Api
Perwakilan Bagana Jawa Tengah, Nooryanto, mengatakan tim gabungan menggunakan sejumlah metode untuk mengendalikan kobaran api. Penanganan disesuaikan dengan kondisi medan dan titik api yang ditemukan.
Metode yang digunakan meliputi gepyok, penyemprotan air, dan pembuatan sekat bakar untuk menghambat pergerakan api agar tidak semakin meluas.
“Tim Bagana ikut turun bersama unsur gabungan untuk melakukan pemadaman. Metode yang digunakan menyesuaikan kondisi di lapangan, yakni gepyok, semprot air dan membuat sekat agar api tidak semakin meluas,” ujar Nooryanto, Kamis (24/9/2026).
Angin Kencang dan Asap Pekat Hambat Pemadaman
Proses pemadaman tidak berjalan mudah. Tim menghadapi angin yang cukup kencang, suhu panas, serta kepulan asap yang mengganggu jarak pandang dan pernapasan.
Kondisi tersebut membuat keselamatan personel menjadi salah satu pertimbangan utama dalam operasi pemadaman.
Pada hari pertama, operasi sempat dihentikan sekitar pukul 00.00 WIB karena kondisi di lapangan dinilai membahayakan. Api masih terlihat meluas, sementara sejumlah pohon tumbang akibat terbakar dan diterpa angin.
Pemantauan terhadap lokasi kebakaran tetap dilakukan hingga sekitar pukul 03.00 WIB. Setelah itu, tim melakukan evaluasi dan koordinasi untuk menentukan strategi penanganan berikutnya.
Pemadaman Dilanjutkan hingga Hari Kedua
Pada Rabu (23/9/2026) sekitar pukul 08.30 WIB, tim kembali melakukan apel dan pembagian tugas sebelum menuju lokasi kebakaran.
Bagana bersama unsur gabungan kembali menyisir kawasan terdampak menggunakan metode gepyok, penyemprotan air, serta membuat sekat untuk membatasi pergerakan api.
Namun hingga sekitar pukul 14.00 WIB, api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Personel kemudian ditarik sementara ke posko karena kondisi di lokasi dinilai cukup berisiko.
“Asap cukup pekat sehingga mengganggu pernapasan dan jarak pandang. Ditambah angin yang cukup kencang dan cuaca panas, sehingga keselamatan tim juga harus menjadi perhatian,” kata Nooryanto.
Meski personel ditarik ke posko, pemantauan titik kebakaran tetap dilakukan. Hingga sekitar pukul 20.20 WIB, perkembangan karhutla masih dipantau oleh tim.
Operasi Hari Ketiga Kembali Digelar
Penanganan karhutla dijadwalkan berlanjut pada Kamis (24/9/2026). Apel pagi dan pembagian personel dilakukan mulai pukul 08.00 WIB sebelum tim kembali menuju kawasan terdampak.
Pemadaman tetap mengandalkan tiga metode utama, yakni gepyok, penyemprotan air, dan pembuatan sekat.
Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam operasi. Prakiraan yang menjadi acuan tim menunjukkan cuaca pagi diperkirakan cerah dengan suhu sekitar 27 derajat Celsius dan angin 5,9 kilometer per jam dari arah tenggara.
Memasuki siang hingga sore, suhu diperkirakan mencapai 31 derajat Celsius dengan kecepatan angin meningkat hingga sekitar 9 kilometer per jam.
Belasan Unsur Terlibat dalam Penanganan
Penanganan kebakaran melibatkan berbagai unsur, yakni BPBD Wonosobo, Polres Wonosobo, Kecamatan Kaliwiro, Koramil dan Polsek Kaliwiro, Yonif TP 444/Satria Setjonegoro, Perhutani, Pemerintah Desa Kaliguwo, warga, relawan RPB, serta Bagana X-23 Wonosobo.
Posko penanganan kebakaran ditempatkan di Gedung Serba Guna Desa Kaliguwo.
Nooryanto mengatakan Bagana akan terus berkoordinasi dengan seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla. Keselamatan personel tetap menjadi perhatian selama operasi berlangsung.
“Yang terpenting sekarang adalah bagaimana api bisa dilokalisir dan tidak semakin meluas. Tim tetap melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan seluruh unsur yang terlibat untuk penanganan selanjutnya,” ujarnya. (mus)













