FOLKSTIME.ID – Kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah tidak hanya menyulitkan masyarakat memenuhi kebutuhan air sehari-hari, tetapi juga berdampak pada pondok pesantren yang berada di kawasan terdampak.
Ketua Fraksi PKB DPRD Jawa Tengah, Abdul Hamid, mengatakan sejumlah pesantren di daerah yang mengalami kekeringan ikut membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan air.
Menurutnya, ketersediaan air menjadi persoalan penting di lingkungan pesantren karena berkaitan dengan berbagai aktivitas santri, termasuk kebutuhan untuk bersuci sebelum menjalankan ibadah.
“Kita di PKB, sampai pondok-pondok pesantren yang ada di daerah kekeringan juga kita bantulah, berapa rupiah untuk bisa belanja air beberapa hari,” kata Abdul Hamid.
Ia berharap bantuan tersebut dapat menjadi solusi sementara bagi pesantren yang kesulitan memperoleh pasokan air selama musim kemarau.
Jangan Sampai Pesantren Kekurangan Air untuk Wudu
Abdul Hamid menilai persoalan air di pesantren perlu mendapat perhatian karena kebutuhan air tidak hanya untuk konsumsi dan aktivitas sehari-hari, tetapi juga untuk menunjang kegiatan keagamaan.
Menurutnya, kondisi kekeringan jangan sampai membuat para santri mengalami kesulitan memperoleh air untuk berwudu.
“Jangan sampai di pesantren, untuk wudu saja susah,” ujarnya.
Ia menyebut meskipun terdapat ketentuan mengenai tayamum ketika tidak tersedia air, pemenuhan kebutuhan air tetap menjadi hal yang perlu diupayakan.
“Walaupun ada ilmunya, kalau tidak ada air ya tayamum bisa. Tapi minimal untuk bersuci, standarnya di era sekarang ini sudah menggunakan air,” katanya.
Karena itu, bantuan air bersih dinilai penting untuk memastikan kegiatan di pesantren tetap berjalan meski berada di wilayah yang mengalami kekeringan.
Bantuan Air Bergerak di Sejumlah Daerah
Selain pesantren, bantuan juga diarahkan kepada masyarakat di sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan air.
Abdul Hamid mengatakan anggota Fraksi PKB DPRD Jawa Tengah bergerak melalui daerah pemilihan masing-masing untuk merespons aspirasi masyarakat.
Pati, Rembang dan Lasem menjadi beberapa wilayah yang disebut mendapat perhatian. Bantuan dilakukan melalui inisiatif masing-masing anggota karena tidak seluruh kebutuhan tersebut dapat dibiayai melalui APBD.
Ia mencontohkan anggota Fraksi PKB bernama Giarto yang memiliki kendaraan tangki dan menggunakannya untuk mendistribusikan air ke sejumlah wilayah terdampak.
“Mas Giarto punya mobil tangki sendiri yang jalan ke Pati, Rembang, Lasem. Itu inisiatif dari masing-masing anggota,” jelasnya.
Menurut Abdul Hamid, pola bantuan tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan berbagai pihak ketika masyarakat menghadapi persoalan ketersediaan air.
Rekayasa Cuaca Perlu Dikaji
Di tengah kondisi kekeringan tersebut, muncul wacana Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melakukan rekayasa cuaca untuk membantu meningkatkan curah hujan di sejumlah wilayah.
Abdul Hamid mengatakan dirinya belum mengetahui secara rinci teknis pelaksanaan maupun besaran anggaran yang diperlukan.
Ia mengatakan rekayasa cuaca dapat dipertimbangkan apabila hasil penelitian menunjukkan program tersebut efektif.
“Kalau memang efektif, penelitian dan risetnya itu sudah jelas, kenapa tidak?” katanya.
Namun, ia mengingatkan agar pemerintah terlebih dahulu mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah.
Menurutnya, efektivitas rekayasa cuaca perlu dibandingkan dengan langkah lain yang sudah dilakukan, seperti distribusi air bersih.
“Efektif dan efisiennya kita hitung. Dari air bersih, dari rekayasa cuaca itu seberapa besar efektifnya,” ujarnya.
Antisipasi Kekeringan Perlu Diperkuat
Abdul Hamid menilai kondisi cuaca yang belum menentu membuat langkah antisipasi harus dipersiapkan sejak awal.
Pemerintah, legislatif, relawan dan masyarakat dinilai dapat mengambil peran masing-masing untuk mengurangi dampak kekeringan.
Terutama bagi pesantren dan fasilitas masyarakat lainnya yang berada di kawasan rawan kekurangan air, bantuan perlu disiapkan sebelum kondisi semakin sulit.
“Prediksi cuaca hari ini belum menentu, minimal mempersiapkan langkah-langkah antisipasi,” katanya.
Dengan demikian, menurut Abdul Hamid, pemenuhan kebutuhan air bersih tetap menjadi langkah penting sembari pemerintah mengkaji berbagai opsi penanganan kekeringan, termasuk kemungkinan rekayasa cuaca.













