SDN Sekaran 1 Semarang menerapkan MPLS Ramah 2026 dengan memperkuat pencegahan bullying, pendidikan karakter, edukasi NAPZA, PHBS, kesiapsiagaan bencana, serta layanan pendidikan inklusif sejak hari pertama sekolah.

SDN Sekaran 1 Semarang menerapkan MPLS Ramah 2026 dengan memperkuat pencegahan bullying, pendidikan karakter, edukasi NAPZA, PHBS, kesiapsiagaan bencana, serta layanan pendidikan inklusif sejak hari pertama sekolah.

FOLKSTIME.ID – Pencegahan bullying sejak hari pertama sekolah diterapkan di SD Negeri Sekaran 1 Kota Semarang melalui pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 dengan melibatkan Babinsa dan Bhabinkamtibmas sebagai mitra edukasi karakter bagi peserta didik baru.

Pelaksanaan MPLS Ramah tersebut dijalankan mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 12 Tahun 2026. Selain pengenalan lingkungan sekolah, pendidikan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, kepatuhan terhadap aturan, serta pembiasaan hidup rukun turut diberikan kepada seluruh siswa baru sebagai bagian dari upaya membangun sekolah yang aman dan bebas perundungan.

Program pencegahan bullying di SDN Sekaran 1 Semarang juga diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor agar peserta didik memahami pentingnya saling menghormati, menjaga keamanan lingkungan sekolah, serta menghindari berbagai perilaku yang berpotensi memicu kekerasan maupun perundungan.

Ketua MPLS SDN Sekaran 1 Semarang, Isnona Arifdiani, mengatakan pendidikan karakter sengaja diperkuat sejak awal masa sekolah agar budaya saling menghargai dapat tumbuh di lingkungan pendidikan.

“Dalam MPLS ini kami menekankan anak-anak untuk rukun dengan teman. Kami juga bekerja sama dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk memberikan edukasi tentang anti bullying, disiplin, kepatuhan terhadap aturan, tanggung jawab, termasuk memberikan pemahaman mengenai bahaya penyalahgunaan NAPZA,” ujar Isnona, Senin (13/7/2026).

Ia menegaskan pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui proses pembelajaran di dalam kelas, melainkan harus dibangun melalui kebiasaan sehari-hari yang diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah.

“Kami ingin anak-anak memiliki kepedulian terhadap teman, lingkungan, kesehatan, dan mampu berinteraksi dengan baik sejak dini sehingga budaya saling menghargai dapat tumbuh,” katanya.

Edukasi Bahaya NAPZA hingga PHBS Diperkuat

Selain materi anti-bullying, peserta didik juga diberikan edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA), etika bermedia sosial, serta pembiasaan melalui Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Hebat Indonesia.

Materi kesiapsiagaan bencana turut disampaikan melalui kerja sama dengan petugas pemadam kebakaran, sedangkan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) diberikan bersama tenaga kesehatan dari Puskesmas sebagai bagian dari pembentukan karakter hidup sehat sejak usia dini.

Berbagai materi tersebut dirancang untuk membentuk peserta didik yang disiplin, peduli terhadap lingkungan, memahami pentingnya keselamatan, serta mampu menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.

Orang Tua Dampingi Masa Transisi Peserta Didik

Pada hari pertama MPLS Ramah 2026, pendampingan oleh orang tua diperbolehkan bagi siswa kelas I sebagai bagian dari proses adaptasi dari jenjang taman kanak-kanak menuju sekolah dasar.

Langkah tersebut dilakukan agar peserta didik dapat mengenal lingkungan belajar baru dengan lebih nyaman sebelum menjalani proses pembelajaran secara mandiri.

“Kehadiran orang tua pada hari pertama dimaksudkan untuk membantu masa transisi anak dari TK ke SD. Setelah hari pertama, anak-anak diharapkan sudah mulai mandiri,” jelas Isnona.

Sekolah Inklusif Perkuat Perlindungan Anak Berkebutuhan Khusus

Pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2026, SDN Sekaran 1 Semarang menerima satu peserta didik berkebutuhan khusus sebagai bagian dari komitmen penyelenggaraan pendidikan inklusif.

Kesiapan layanan pendidikan telah dilakukan melalui pembekalan kepada para guru mengenai karakteristik anak berkebutuhan khusus sehingga proses pendampingan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.

“Kami menerima satu anak berkebutuhan khusus tahun ini. Guru kami juga telah mendapatkan penjelasan mengenai karakteristik anak tersebut sehingga proses pendampingan dapat dilakukan dengan tepat. Pencegahan bullying kepada seluruh siswa, termasuk anak inklusi, menjadi perhatian kami melalui pembiasaan hidup rukun sejak awal masuk sekolah,” ungkap Isnona.

Selama lima hari pelaksanaan MPLS Ramah 2026, berbagai pembiasaan karakter diterapkan melalui Gerakan Rukun Sama Teman, Pagi Ceria, budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun), etika bermedia sosial, serta Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Bersih, dan Indah.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, lingkungan sekolah ditargetkan semakin aman, inklusif, bebas bullying, sekaligus mampu membentuk peserta didik yang berakhlak, disiplin, toleran, dan memiliki kepedulian sosial sejak hari pertama memasuki dunia pendidikan dasar.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID – ​Buat Sedulur Warga Kota Semarang yang sempat bertanya-tanya soal pembongkaran di area Simpang Lima, ini dia jawabannya! ​Pemerintah Kota Semarang sedang melakukan penataan menyeluruh di Zona A, B, C, dan D demi kenyamanan bersama. Fokus utamanya meliputi: Fasilitas Publik: Perbaikan trotoar agar lebih ramah pejalan kaki. ​ Lingkungan: Penataan drainase, pembersihan sedimen saluran, dan instalasi IPAL khusus PKL agar sanitasi terjaga. ​Penghijauan: Setelah pengerjaan selesai, area akan kembali ditanami pohon agar tetap adem. ​Bagi para PKL terdampak, saat ini telah disiapkan area relokasi sementara di depan E-Plaza yang sudah diperluas. ​Mari bersama-sama mengawal pembangunan kota kita tercinta agar semakin hebat! Intip rencana desain 3D-nya di video ya! #semarangsemakinhebat #semarangpemkot #agustinawilujengp #jateng #semarang

♬ suara asli – Folkstime.id – Folkstime.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *