FOLKSTIME.ID – Nelayan di Kota Semarang didorong memanfaatkan aplikasi Indonesia Weather Information for Shipping (InaWIS) milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menentukan waktu dan lokasi melaut. Teknologi informasi cuaca tersebut diperkenalkan kepada 30 nelayan melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan di Kelurahan Tanjung Mas, Kota Semarang, Senin (31/8/2026).
Pelatihan yang digelar BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tegal bersama pihak terkait tersebut dilakukan melalui pemberian materi teori dan praktik. Para nelayan diarahkan untuk mengakses aplikasi, membaca informasi cuaca, serta memahami data kelautan sebelum digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk melaut.
Melalui aplikasi InaWIS, informasi mengenai kondisi gelombang, arus laut hingga potensi lokasi ikan dapat diperoleh nelayan. Data tersebut diharapkan dapat membuat perjalanan penangkapan ikan menjadi lebih terukur sekaligus mengurangi risiko saat kondisi laut berubah.
Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tegal Kaharudin mengatakan pelatihan tersebut diberikan agar informasi cuaca BMKG dapat dipahami dan dimanfaatkan langsung oleh nelayan. “Yang diajarkan dalam pelatihan ini adalah memberikan informasi secara teori dan juga praktik untuk membuka aplikasi yang ada di BMKG, sehingga nelayan bisa membaca dan membuka aplikasi informasi cuaca dari BMKG,” kata Kaharudin.
InaWIS Bantu Baca Kondisi Laut
Informasi yang tersedia melalui InaWIS tidak hanya digunakan untuk mengetahui keadaan cuaca saat itu. Kondisi gelombang, arus laut dan perkiraan posisi ikan dapat dibaca dengan mempertimbangkan waktu perjalanan menuju lokasi penangkapan.
“Aplikasi yang saat ini digunakan adalah InaWIS. Itu bisa membaca gelombang, kemudian arus laut, dan posisi ikan yang ada di laut,” ujar Kaharudin.
Menurut dia, waktu juga menjadi bagian penting dalam membaca informasi tersebut. Perjalanan menuju lokasi ikan dapat diperkirakan sehingga nelayan dapat menyesuaikan rencana keberangkatan dengan kondisi yang akan dihadapi.
“Kalau nelayan mau berlayar ke posisi ikan, jamnya bisa dilihat. Sehingga bisa diperkirakan perjalanan nelayan dari posisi ikan ke kita membutuhkan beberapa jam,” jelasnya.
Pemanfaatan data tersebut juga dinilai dapat menekan penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Lokasi yang berpotensi menjadi tempat penangkapan ikan dapat diketahui lebih awal sehingga pencarian ikan secara berkeliling dapat dikurangi.
“Keuntungannya adalah nelayan bisa mengetahui posisi pastinya kemudian bisa menghemat BBM. Kalau dulu nelayan mencari ikan, sekarang dengan adanya aplikasi ini nelayan bisa menangkap ikan dengan sudah mengetahui posisi ikan,” kata Kaharudin.
Keselamatan Melaut Jadi Prioritas
Keselamatan nelayan menjadi salah satu tujuan utama pemanfaatan teknologi informasi cuaca tersebut. Kondisi cuaca yang dinilai semakin sulit diprediksi membuat pengalaman melaut perlu dilengkapi dengan informasi meteorologi yang lebih terukur.
“Harapan kami, nelayan bisa menggunakan informasi atau aplikasi yang diberikan oleh BMKG sehingga ke depannya bisa memberikan informasi untuk keselamatan berlayar,” tuturnya.
Kaharudin menyebut pengalaman nelayan tetap memiliki peran penting, tetapi perlu dipadukan dengan teknologi. Perubahan iklim disebut turut membuat kondisi cuaca menjadi lebih dinamis sehingga keputusan melaut tidak cukup hanya didasarkan pada kebiasaan atau pengalaman.
“Karena pengaruh perubahan iklim, cuaca sudah mulai tidak menentu. BMKG ikut memberikan informasi dengan teknologi yang ada sehingga ilmu yang dimiliki nelayan bisa digabungkan dengan teknologi,” katanya.
Nelayan juga diminta mewaspadai kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem secara mendadak. Pemeriksaan informasi BMKG sebelum meninggalkan daratan dinilai dapat membantu nelayan menentukan apakah perjalanan dapat dilanjutkan atau perlu ditunda.
“Yang harus diwaspadai oleh nelayan adalah karena saat ini sering terjadi cuaca ekstrem, baik di laut maupun di darat. Nelayan perlu mengetahui informasi yang diberikan BMKG sehingga pada saat melaut bisa selamat dan kembali dengan selamat,” ujarnya.
Perubahan cuaca secara tiba-tiba menjadi salah satu risiko yang perlu diantisipasi. Kondisi tersebut dapat menyulitkan persiapan apabila informasi mengenai keadaan laut tidak diperoleh sebelum keberangkatan.
“Dengan kondisi saat ini yang tidak menentu, yang perlu diwaspadai adalah perubahan atau tiba-tiba terjadi cuaca ekstrem sehingga tidak bisa dilakukan persiapan,” katanya.
Karena itu, informasi cuaca BMKG dianjurkan untuk diperiksa sebelum aktivitas penangkapan ikan dilakukan. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari prosedur keselamatan nelayan sebelum berlayar.
“Kami dari BMKG mengimbau para nelayan agar sebelum melaut mendapatkan informasi dari BMKG sehingga saat melaut bisa mengetahui kondisi yang ada,” kata Kaharudin.
Aplikasi Dinilai Mudah Diakses
Pemanfaatan InaWIS juga dinilai memberikan keuntungan dari sisi efisiensi biaya operasional. Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang Soenarto mengatakan keputusan melaut yang tidak didasarkan pada informasi cuaca dapat berujung pada kerugian apabila nelayan terpaksa kembali ke daratan.
“Ini positif dan menguntungkan kita semuanya. Kalau sudah terlanjur melaut, kemudian cuacanya tidak memungkinkan, berarti dia ada rugi di modal karena harus putar balik,” ujar Soenarto.
Biaya BBM dan kebutuhan operasional yang telah dikeluarkan berpotensi menjadi kerugian ketika perjalanan penangkapan ikan harus dihentikan akibat kondisi laut. Karena itu, informasi sebelum keberangkatan dinilai dapat memberikan pertimbangan yang lebih baik.
“Ini contoh konkret yang paling sederhana itu bisa dijalankan. Terlebih lagi kalau bicara keselamatan, utamanya adalah selamat,” katanya.
Menurut Soenarto, risiko aktivitas di laut juga perlu ditekan dengan memanfaatkan informasi yang tersedia. Kondisi cuaca yang tidak terkendali ketika nelayan sudah berada di laut dapat menimbulkan persoalan keselamatan.
“Ketika sudah melaut, terus cuaca tidak terkendali, saya kira ini menjadi sebuah upaya yang kita hindari. Yang utama adalah keselamatan,” ujarnya.
Dari sisi teknis, InaWIS disebut dapat digunakan melalui telepon pintar yang dimiliki nelayan. Sistem berbasis daring tersebut juga dapat diunduh melalui toko aplikasi sehingga akses terhadap informasi cuaca dapat dilakukan secara lebih praktis.
“Kami sudah cek bahwa aplikasi ini sifatnya online, bisa dipakai. Di satu sisi juga bisa diunduh dari App, dan nampaknya dari karakteristik sistem ini cukup ringan untuk bisa dimanfaatkan,” kata Soenarto.
Kompetensi Nelayan Diperkuat
Pemanfaatan teknologi informasi cuaca di Kota Semarang juga diarahkan untuk memperkuat kompetensi nelayan. Kemampuan membaca informasi meteorologi dan kelautan dinilai semakin diperlukan karena pola cuaca dapat berubah dalam waktu relatif cepat.
“Ilmu yang dimiliki nelayan itu sekarang sudah tidak cukup. Kadang panas terik, tahu-tahu berganti dengan angin yang cukup kencang,” ujar Soenarto.
Sekolah Lapang Cuaca Nelayan kemudian ditempatkan sebagai salah satu bentuk dukungan pemerintah dalam meningkatkan kemampuan nelayan. Informasi cuaca diharapkan tidak hanya diketahui, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi keputusan sebelum aktivitas penangkapan ikan dilakukan.
“Kegiatan ini menjadi kegiatan yang strategis karena kondisi cuaca saat ini masih tidak menentu. Ini merupakan salah satu support pemerintah untuk meningkatkan kompetensi nelayan,” kata Soenarto.
Nelayan Disiapkan Punya Alternatif Usaha
Penguatan kompetensi nelayan tidak hanya diarahkan pada aktivitas penangkapan ikan. Dinas Perikanan Kota Semarang juga menyiapkan pengembangan perikanan perkotaan sebagai alternatif kegiatan ekonomi ketika kondisi laut tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan.
Program tersebut telah dikembangkan melalui Semarang Open Fisheries dengan Tambak Lorok menjadi salah satu kawasan percontohan. Nelayan akan diarahkan agar memiliki kemampuan tambahan di luar kegiatan menangkap ikan di laut.
“Kemarin kami sudah meluncurkan program Semarang Open Fisheries, perikanan perkotaan. Kami ingin meningkatkan kompetensi teman-teman nelayan, khususnya pilot kemarin adalah di Tambak Lorok,” ujarnya.
Dalam program tersebut, pelatihan budidaya ikan akan diberikan kepada nelayan. Lahan terbatas di kawasan perkotaan dapat dimanfaatkan menggunakan sarana sederhana seperti kolam terpal maupun kolam lainnya.
“Nanti akan kita latih untuk berbudidaya ikan. Artinya bukan hanya kompetensi untuk tangkap saja, tetapi bagaimana dia juga bisa berbudidaya di lahan yang sempit menggunakan alternatif-alternatif kolam terpal maupun kolam,” kata Soenarto.(tya)


