FOLKSTIME.ID – Semangat melestarikan budaya daerah kembali digaungkan Pemerintah Kota Semarang melalui peringatan Hari Aksara Internasional 2026.
Mengusung tema “Menghidupkan Kembali Aksara Daerah dalam Harmoni MTQ”, kegiatan ini memadukan gerakan literasi, pelestarian aksara Jawa, seni tradisi, dan nuansa religius dalam suasana Semarang sebagai tuan rumah MTQ Nasional XXXI.
Kegiatan yang digelar Selasa (8/9/2026) di halaman Kantor Bersama Kecamatan Banyumanik, Jalan Prof Soedarto Nomor 116, Sumurboto, tersebut melibatkan sekitar 320 siswa sekolah dasar dari enam sekolah di kawasan Banyumanik dan Tembalang.Peringatan Hari Aksara tahun ini dirancang tidak sekadar sebagai kegiatan seremonial.
Pemkot Semarang menjadikannya sebagai ruang pembelajaran bagi anak-anak untuk mengenal kembali aksara dan bahasa Jawa sekaligus membangun ekosistem literasi yang melibatkan pemerintah, sekolah, akademisi, komunitas, hingga pegiat literasi.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengatakan momentum Hari Aksara tahun ini terasa istimewa karena berlangsung bersamaan dengan Semarang menjadi tuan rumah MTQ Nasional XXXI.
Menurut Agustina, MTQ dan Hari Aksara memiliki irisan yang kuat dalam hal literasi, yakni sama-sama mengajak masyarakat membaca, memahami, serta meneruskan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Kalau MTQ mengingatkan kita pada pentingnya membaca dan memahami Al-Qur’an, Hari Aksara mengingatkan kita bahwa manusia memiliki begitu banyak cara untuk menyimpan dan meneruskan pengetahuan. Salah satunya melalui aksara yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Agustina.
Ia menilai aksara Jawa tidak boleh sekadar menjadi peninggalan masa lalu. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, generasi muda justru perlu semakin mengenal budaya yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri.
“Kenal teknologi, boleh. Kenal dunia, harus. Tapi jangan lupa kenal budaya sendiri,” tegasnya di hadapan para siswa.
Agustina juga mengajak peserta tidak memandang aksara Jawa sebagai sesuatu yang sulit. Di balik bentuk aksara yang berbeda dengan huruf latin, terdapat bahasa, cerita, pengetahuan, dan sejarah panjang masyarakat Jawa.
“Di balik bentuk-bentuk itu ada bahasa, ada cerita, ada pengetahuan, dan ada warisan dari orang-orang yang hidup sebelum kita,” katanya.
Suasana kegiatan pun dibuat interaktif. Setelah memberikan sambutan, Agustina mengajak para siswa mengikuti Game Aksara Jawa.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk membuat pembelajaran aksara daerah terasa lebih menyenangkan bagi anak-anak.
“Siapa di antara kalian yang paling jago membaca Aksara Jawa? Siapa yang berani?” tanya Agustina yang langsung disambut antusias para peserta.
Dorong Indeks Literasi Semarang
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Nur Huda Iskandar, mengatakan peringatan Hari Aksara 2026 merupakan bagian dari upaya memperkuat indeks literasi masyarakat sekaligus mengenalkan aksara Jawa kepada generasi muda sejak dini.
“Tujuannya untuk meningkatkan indeks literasi Kota Semarang, kemudian membangun ekosistem literasi kolaboratif, serta mengenalkan dan melestarikan aksara Jawa kepada generasi muda sejak dini,” jelas Nur Huda.
Ia menjelaskan, pemilihan siswa sekolah dasar sebagai peserta dilakukan agar pengenalan aksara Jawa dapat dimulai sejak usia dini. Selain itu, pemilihan enam sekolah di sekitar Banyumanik dan Tembalang juga mempertimbangkan kemudahan mobilitas peserta.
Kegiatan tersebut dikemas dengan berbagai aktivitas yang menggabungkan literasi, seni budaya dan nilai keagamaan. Acara diawali dengan tilawatil Quran oleh siswa, kemudian dilanjutkan dengan penampilan tembang Macapat.
Dua penampilan Macapat turut mewarnai kegiatan, yakni penampilan siswa SD Negeri Tembalang dengan tembang Gambuh/Mijil, serta penampilan kelompok 10 siswa SD Islam Pangeran Diponegoro yang membawakan Kinanthi Sandhung Mesem, Laras Slendro Pathet Manyura.
Tidak hanya itu, para peserta juga mendapatkan materi literasi Aksara Jawa dari Dr. Nur Hanifah Insani, S.Pd., M.Pd., dosen Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Materi tersebut diberikan secara kontekstual agar anak-anak lebih mudah memahami dasar-dasar Aksara Jawa sekaligus tertarik untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Gol A Gong, Duta Baca Indonesia, hadir secara daring memberikan materi mengenai redefinisi makna aksara di era modern. Peserta diajak memahami bahwa literasi tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan berpikir, berkomunikasi, berkarya, menjaga identitas budaya, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Literasi Dipadukan dengan Budaya LokalRangkaian kegiatan juga diisi dengan storytelling atau mendongeng menggunakan bahasa Jawa. Salah satunya dibawakan siswa SDN Pedalangan 02 melalui cerita bertema lingkungan berjudul “Brown Canyon”.
Cerita tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan bahasa Jawa secara menyenangkan sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada anak-anak.
Penampilan storytelling juga dilakukan oleh Duta Baca Pelajar SD dan SMP dengan mengangkat tema literasi serta aksara daerah.
Menurut Nur Huda, perpaduan antara aksara, seni tradisi, membaca, mendongeng, dan MTQ diharapkan mampu menunjukkan bahwa literasi memiliki banyak bentuk dan dapat dipelajari dengan cara yang menyenangkan.
“Belajar bisa dilakukan dengan banyak cara. Ada yang dibaca, ada yang didengarkan, ada yang diceritakan, ada yang dinyanyikan. Yang penting kita terus mau belajar dan tidak takut mencoba,” kata Agustina.
Momentum MTQ Nasional XXXI juga dimanfaatkan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang untuk memperkuat rangkaian kegiatan literasi dan budaya lainnya.
Salah satunya melalui pameran di rumah dinas yang mengangkat sejarah penyelenggaraan MTQ di Semarang pada 1979.
Pameran tersebut menjadi upaya mengenalkan kembali jejak sejarah MTQ sekaligus memperkaya literasi masyarakat mengenai perjalanan kegiatan keagamaan tersebut di Kota Semarang.
Dinas Arsip dan Perpustakaan juga menampilkan Mushaf Al-Qur’an serta karya dan pemikiran KH Sholeh Darat, termasuk pesan mengenai toleransi beragama yang terkandung dalam karya ulama besar asal Semarang tersebut.
Selain itu, rangkaian literasi akan diperkuat melalui kegiatan lomba cerpen dan coaching clinic yang dijadwalkan berlangsung Rabu (16/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan peserta yang sebelumnya telah mengikuti dan memenangkan lomba cerpen untuk berbagi pengalaman serta tips menulis.Salah satu karya pemenang sebelumnya, “Canting untuk Lampion”, bahkan telah diangkat menjadi film.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat memotivasi generasi muda Semarang untuk berani menulis dan menghasilkan karya yang lebih luas.
Melalui rangkaian tersebut, Hari Aksara 2026 di Semarang tidak hanya menjadi peringatan tentang kemampuan membaca dan menulis.
Lebih jauh, kegiatan ini menjadi pesan bahwa kemajuan teknologi dan keterbukaan terhadap dunia harus berjalan beriringan dengan kemampuan generasi muda untuk mengenali, menjaga, dan menghidupkan kembali identitas budayanya sendiri.













