
Produksi ikan Kota Semarang baru mencapai sekitar 7,2 ton per tahun, sementara kebutuhan masyarakat menyentuh 44 ton.
FOLKSTIME.ID – Pemerintah Kota Semarang meluncurkan program Semarang Urban Fishery Integrated Smart and Holistic (Sunfish) sebagai strategi meningkatkan produksi ikan setelah hasil budidaya daerah baru mampu memenuhi sekitar 16 persen dari total kebutuhan konsumsi masyarakat. Program ini mengandalkan konsep perikanan perkotaan berbasis teknologi digital untuk mengejar ketahanan pangan sekaligus mencetak pembudidaya muda.
Data Dinas Perikanan Kota Semarang menunjukkan produksi ikan sepanjang 2025 hanya mencapai sekitar 7,2 ton, sedangkan kebutuhan konsumsi masyarakat telah menyentuh sekitar 44 ton per tahun. Selisih yang cukup besar tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan produksi ikan dari kawasan perkotaan.
Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang, Soenarto, mengatakan kondisi tersebut menjadi alasan utama diluncurkannya program Sunfish sebagai gerakan memperkuat sektor budidaya ikan di Kota Semarang.
“Di tahun 2025 kemarin kita berhasil memproduksi sekitar 7,2 ton. Tapi kebutuhan yang dikonsumsi warga Kota Semarang mencapai hampir 44 ton per tahun. Selisihnya masih sangat besar, sehingga ini menjadi upaya kami agar Kota Semarang mampu menghasilkan produksi ikan untuk mencukupi kebutuhan sendiri,” kata Soenarto di Balai Kota Semarang, Selasa (28/7/2026).
Lahan Tambak Menyusut, Perikanan Perkotaan Jadi Solusi
Menurut Soenarto, menurunnya produksi juga dipengaruhi semakin berkurangnya lahan budidaya air payau di kawasan pesisir akibat penurunan muka tanah. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian pembudidaya kehilangan lokasi usaha sehingga produksi terus tertekan.
“Ini diperparah karena kondisi lahan di pesisir Kota Semarang mulai turun tanahnya. Beberapa saudara kita yang berbudidaya di air payau kehilangan lahannya. Karena itu kami ingin terus mengupayakan produksi melalui konsep perikanan perkotaan,” ujarnya.
Melalui Sunfish, Pemkot Semarang mengembangkan konsep budidaya ikan yang terintegrasi, memanfaatkan lahan sempit di kawasan perkotaan tanpa bergantung pada tambak skala besar.
Sunfish Andalkan AI dan IoT untuk Tarik Generasi Muda
Soenarto menjelaskan, Sunfish merupakan singkatan dari Semarang Urban Fishery Integrated Smart and Holistic, yaitu konsep perikanan perkotaan yang memadukan budidaya ikan dengan pemanfaatan teknologi digital.
“Sunfish adalah Semarang Urban Fishery, perikanan perkotaan yang terintegrasi, smart dan holistik. Salah satunya melalui penguatan teknologi digital agar pengembangan perikanan bisa lebih efektif,” katanya.
Teknologi Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) akan diterapkan untuk mendukung budidaya modern, mulai dari pemberian pakan otomatis hingga pemantauan kualitas air secara digital.
“Nantinya pemberian pakan bisa dilakukan secara otomatis melalui IoT dan AI. Pengukuran pH air maupun kadar amonia juga dapat dipantau menggunakan teknologi sehingga budidaya menjadi lebih modern dan menarik bagi anak-anak muda,” jelasnya.
Menurutnya, modernisasi budidaya diharapkan mampu mengubah pandangan generasi muda terhadap sektor perikanan yang selama ini dianggap kurang menarik.
Kampung Budidaya Lele dan Nila Disiapkan
Sebagai implementasi awal, Dinas Perikanan Kota Semarang akan mendorong pemanfaatan lahan terbatas untuk budidaya ikan konsumsi, khususnya lele dan nila.
“Walaupun tidak ada lahan yang luas, kami akan mendorong lahan-lahan sempit di perkotaan tetap bisa dimanfaatkan untuk budidaya perikanan. Branding yang akan kami dorong adalah budidaya lele dan nila,” ujar Soenarto.
Program tersebut akan diperkuat melalui pembentukan Kampung Budidaya Lele dan Nila di sejumlah wilayah. Selain itu, fungsi Balai Benih Ikan (BBI) juga akan dikembangkan menjadi pusat pendidikan budidaya ikan bagi masyarakat.
“BBI yang sebelumnya hanya berfungsi menghasilkan benih akan kami ubah menjadi pusat pendidikan. Nantinya masyarakat Kota Semarang bisa belajar langsung mengenai budidaya ikan di sana,” katanya.
Pilot Project Budeni Ciroto Jadi Model Perikanan Terintegrasi
Dinas Perikanan Kota Semarang juga telah membangun kawasan percontohan melalui Kampung Budeni Ciroto yang mengintegrasikan seluruh rantai budidaya, mulai dari pembenihan, pembesaran ikan, pengolahan hasil hingga pemasaran.
Program tersebut tidak hanya menyasar kelompok pembudidaya yang sudah ada, tetapi juga generasi muda. Berdasarkan data Dinas Perikanan, mayoritas pembudidaya saat ini berusia di atas 45 tahun sehingga regenerasi menjadi kebutuhan mendesak.
“Dari data kami, rata-rata usia pembudidaya sudah di atas 45 tahun. Karena itu kami ingin generasi muda memiliki ketertarikan terhadap sektor perikanan dan tidak lagi menganggap budidaya ikan sebagai pekerjaan yang susah atau kotor,” ujarnya.
Soenarto berharap pengembangan Kampung Budeni Ciroto dapat menjadi model pengembangan perikanan perkotaan modern di Kota Semarang sehingga produksi ikan terus meningkat dan secara bertahap mampu mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.
“Kami sudah membentuk satu kampung pilot, yaitu Kampung Budeni Ciroto. Konsepnya dari hulu sampai hilir, mulai dari pemijahan, pembesaran, hingga pengolahan hasil dan pemasaran sehingga menjadi kawasan budidaya yang terintegrasi,” pungkasnya.(tya)
