
Pemkot Semarang menyiapkan CCTV berbasis AI untuk memantau sungai, mendeteksi sampah, sedimentasi, dan potensi banjir secara real time.
FOLKSTIME.ID – Sistem peringatan dini banjir berbasis kecerdasan buatan (AI) segera disiapkan Pemerintah Kota Semarang dengan pemasangan CCTV pintar di sejumlah sungai untuk mendeteksi tumpukan sampah, sedimentasi, hingga potensi luapan air secara real time.
Pengembangan teknologi Smart City Semarang tersebut diarahkan untuk memperkuat pengendalian banjir dan rob yang selama ini menjadi persoalan utama perkotaan. Melalui sistem yang terintegrasi, kondisi sungai di berbagai titik akan dipantau secara digital sehingga potensi gangguan dapat diketahui lebih cepat.
Pemanfaatan CCTV berbasis AI itu dirancang tidak hanya sebagai sarana pemantauan visual, tetapi juga sebagai perangkat analisis yang mampu membaca perubahan kondisi sungai dan mengirimkan notifikasi otomatis ketika ditemukan indikasi masalah yang memerlukan penanganan.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengatakan konsep Smart City yang dikembangkan pemerintah kota mencakup pelayanan publik sekaligus penanganan banjir dan rob melalui pemanfaatan teknologi.
“Itu termasuk Smart City. Jadi nantinya akan terkoneksi juga. Smart City itu kan memberikan layanan-layanan kepada masyarakat, termasuk di antaranya penanganan banjir dan rob,” kata Agustina, Kamis (25/6).
Program tersebut disiapkan setelah adanya masukan dari kalangan akademisi yang mendorong perlunya sistem pemantauan sungai secara modern dan terintegrasi di seluruh wilayah Kota Semarang.
Menurut Agustina, pembangunan early warning system dinilai penting agar kondisi sungai dapat diawasi secara berkelanjutan dan potensi bencana dapat dideteksi sebelum menimbulkan dampak yang lebih besar.
“Hari ini tadi ada masukan bagus dari Prof Safrudin. Kita diminta untuk membuat early warning system di seluruh sungai yang ada di Kota Semarang,” ujarnya.
Deteksi Sampah dan Sedimentasi
Dalam rancangan yang sedang disiapkan, CCTV pintar akan dipasangi kemampuan analisis berbasis AI sehingga keberadaan sampah yang menumpuk di aliran sungai dapat langsung dikenali oleh sistem.
Ketika kapasitas aliran air dinilai mulai terganggu akibat penumpukan material tertentu, peringatan otomatis akan dikirimkan kepada petugas untuk segera dilakukan tindak lanjut.
“Seperti CCTV yang bisa AI, yang bisa melihat apakah sampah ini penuh atau tidak, kemudian keluar notifikasi. Jadi sistemnya bisa memberikan informasi secara otomatis ketika ada kondisi yang perlu ditindaklanjuti,” jelasnya.
Selain sampah, kondisi sedimentasi yang selama ini menjadi salah satu penyebab berkurangnya daya tampung sungai juga akan dianalisis melalui teknologi tersebut.
Keberadaan endapan yang berpotensi menghambat aliran air diharapkan dapat diketahui lebih dini sehingga langkah penanganan dapat segera dilakukan sebelum memicu genangan maupun banjir.
“Termasuk endapan ya, sedimen. Kalau CCTV-nya ini memang harus smart. Nanti AI-nya bisa membaca kondisi-kondisi seperti itu,” kata Agustina.
Pantau Potensi Luapan Air
Kemampuan lain yang tengah dirancang dalam sistem AI tersebut adalah pembacaan kenaikan muka air sungai yang berpotensi menyebabkan luapan ke kawasan permukiman.
Data yang diperoleh dari kamera pintar nantinya akan diolah untuk menghasilkan analisis otomatis mengenai tingkat risiko banjir berdasarkan kondisi lapangan yang terekam.
“Ini nanti kalau ada banjir, air sekian, ini akan menimbulkan luapan karena dia pintar. Jadi sistem bisa membaca kondisi yang berpotensi menyebabkan luapan sungai,” ujarnya.
Dengan dukungan teknologi tersebut, proses pengawasan yang selama ini masih banyak dilakukan melalui pengecekan langsung di lapangan diharapkan dapat berlangsung lebih cepat, akurat, dan efisien.
Koordinasi dengan BBWS
Pelaksanaan program itu disebut masih memerlukan koordinasi lintas instansi karena pengelolaan sungai di Kota Semarang berada dalam kewenangan berbagai pihak, termasuk Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Integrasi data dari wilayah hulu hingga hilir dinilai menjadi faktor penting agar informasi yang diterima sistem dapat menghasilkan peringatan yang akurat dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Nah, ini kita harus koordinasi sama BBWS. Karena mereka yang bisa menentukan misalnya ada potensi banjir dari hulu atau tidak, kemudian kondisi sungai seperti apa. Informasi-informasi itu nantinya bisa terhubung dan memberikan notifikasi kepada kita,” tutur Agustina.
Ia menambahkan, efektivitas sistem peringatan dini banjir berbasis AI tidak hanya ditentukan oleh pemasangan perangkat di lapangan, tetapi juga oleh keterhubungan data dan koordinasi antarlembaga yang terlibat dalam pengelolaan sungai.
“Karena harus dipasang di lokasi-lokasi tertentu dan sistemnya harus benar-benar pintar. Jadi memang membutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak,” pungkasnya.(tya)
