
Akses transportasi yang layak dinilai menjadi bagian penting dari kesejahteraan guru.
FOLKSTIME.ID – Di balik kualitas pendidikan yang baik, ada perjuangan panjang para guru yang sering kali tak terlihat. Bukan hanya soal menyiapkan materi ajar atau mendampingi siswa di kelas, tetapi juga perjuangan menempuh perjalanan menuju sekolah yang kerap penuh tantangan. Dari kemacetan perkotaan hingga medan terjal di wilayah terpencil, akses transportasi menjadi bagian penting yang turut menentukan kesejahteraan guru.
Djoko Setijowarno menegaskan, membicarakan kesejahteraan guru tidak bisa hanya berhenti pada nominal gaji. Menurutnya, aksesibilitas transportasi harus masuk dalam kerangka besar kebijakan pendidikan nasional.
“Transportasi yang buruk sering kali menjadi beban tersembunyi bagi guru. Mereka harus mengeluarkan biaya besar, mengorbankan tenaga, bahkan menghadapi risiko keselamatan hanya untuk bisa sampai ke sekolah,” kata Djoko.
Ia menyoroti kondisi guru honorer yang masih menerima pendapatan terbatas, namun harus mengalokasikan sebagian besar penghasilannya untuk kebutuhan perjalanan. Dalam banyak kasus, biaya transportasi harian bisa mencapai seperempat hingga hampir setengah dari total pendapatan bulanan.
Situasi ini, lanjut Djoko, jauh lebih berat dirasakan guru yang bertugas di daerah 3TP dan wilayah kepulauan. Keterbatasan angkutan umum, minimnya transportasi perintis, hingga tingginya ongkos perjalanan membuat pengabdian mereka semakin berat.
“Di beberapa wilayah kepulauan, guru harus menggunakan perahu kecil atau kendaraan sewaan dengan biaya tinggi. Bahkan ada yang menghabiskan lebih dari 50 persen tunjangan hanya untuk mobilitas,” jelasnya.
Menurut Djoko, persoalan tersebut tak boleh dipandang sebagai masalah teknis semata. Sebab, dampaknya langsung menyentuh kualitas pendidikan. Guru yang kelelahan di perjalanan berpotensi kehilangan energi, fokus, dan kreativitas saat mengajar.
Ia menilai, infrastruktur transportasi yang layak sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi masa depan pendidikan. Jalan yang baik, moda transportasi yang aman, dan ongkos yang terjangkau akan membantu menjaga kondisi fisik dan psikologis guru tetap stabil.
“Kalau guru datang ke sekolah dengan tubuh lelah dan pikiran terbebani, proses belajar tentu tidak maksimal. Maka transportasi harus dilihat sebagai bagian dari penopang mutu pendidikan,” ujarnya.
Lebih jauh, Djoko menilai akses transportasi yang baik juga menjadi faktor penting dalam pemerataan pendidikan. Daerah dengan konektivitas memadai lebih berpeluang menarik dan mempertahankan tenaga pendidik berkualitas.
Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk menyusun kebijakan yang lebih komprehensif, seperti pemberian subsidi transportasi bagi guru di perkotaan dan penguatan layanan angkutan perintis di daerah tertinggal.
“Negara harus hadir memastikan guru tidak berjuang sendirian di jalan. Ketika mobilitas mereka dipermudah, kesejahteraan meningkat, semangat mengajar terjaga, dan pada akhirnya kualitas pendidikan nasional ikut terangkat,” tutup Djoko. (mus)

1 thought on “Transportasi Guru Jadi Kunci Mutu Pendidikan, Djoko: Kesejahteraan Tak Bisa Diukur dari Gaji Saja”