FOLKSTIME.ID – Kreativitas warga menjadi warna tersendiri dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kampung Gang Presiden Puntan, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Senin (17/8/2026).
Tidak sekadar mengenakan pakaian adat dan kostum profesi, sejumlah warga memanfaatkan limbah rumah tangga untuk membuat busana yang dikenakan dalam upacara. Bubble wrap bekas kemasan paket dan bungkus deterjen diolah menjadi kostum bernuansa budaya.
Upacara yang dimulai sekitar pukul 07.00 WIB itu sekaligus menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan pesan tentang persatuan, kepedulian lingkungan, kesetaraan peran perempuan, dan pentingnya menjaga budaya di tengah kehidupan masyarakat modern.
Bubble Wrap Bekas Disulap Jadi Busana Adat
Salah satu kreativitas ditunjukkan Emma Apriliana, warga RT 02/RW 01 Kampung Puntan. Ia memanfaatkan bubble wrap bekas pembungkus paket belanja daring untuk dibuat menjadi outer dan rok dengan konsep busana adat Kalimantan.
Bahan yang biasanya berakhir sebagai sampah tersebut dikumpulkan dan dijahit sendiri oleh Emma. Ide pembuatan kostum diperolehnya dari berbagai kreasi pemanfaatan sampah plastik yang dilihat melalui media sosial.
“Ini kan ada bekas bubble wrap banyak di rumah, biasanya buat bungkus paket belanja online. Daripada dibuang saya kumpulin kemudian saya jahit sendiri, saya eksplor dan saya buat kostum 17-an,” kata Emma.
Kreativitas tersebut bahkan berpotensi berkembang menjadi kegiatan ekonomi. Setelah kostumnya diunggah melalui status WhatsApp, Emma mengaku mulai mendapatkan permintaan penyewaan.
“Alhamdulillah sudah ada yang pesan sewa kostum saya, Mas, gara-gara saya posting di status WhatsApp,” ungkapnya.
Tidak hanya bubble wrap, limbah kemasan deterjen juga dimanfaatkan warga lainnya. Ratna Wardani mengumpulkan bungkus deterjen dari rumah untuk diolah menjadi kostum peringatan kemerdekaan.
“Daripada bungkus deterjennya dibuang, ya mending dimanfaatkan untuk kostum 17-an. Siapa tahu bisa jadi inspirasi banyak orang. Ini saya butuh waktu seminggu,” jelas Ratna.
Perempuan Ambil Peran dalam Upacara
Pesan kesetaraan juga ditampilkan melalui keterlibatan perempuan dalam pelaksanaan upacara.
Sejumlah posisi penting, mulai protokol, pasukan pengibar bendera hingga pembaca UUD 1945, dipercayakan kepada ibu-ibu dan remaja putri.
Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan tidak hanya menjadi ruang seremoni, tetapi juga menjadi kesempatan bagi perempuan untuk mengambil peran dalam kegiatan publik dan kehidupan bermasyarakat.
Busana Adat Jadi Simbol Kebinekaan
Semangat Bhinneka Tunggal Ika turut menjadi bagian utama dalam konsep upacara. Warga mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia serta kostum yang menggambarkan beragam profesi.
Pembina upacara, Waimin S.Pd, mengatakan keberagaman tersebut menjadi gambaran bahwa persatuan dapat dimulai dari lingkungan masyarakat paling dekat.
“Mengisi kemerdekaan bisa dilakukan dengan banyak hal, salah satunya menjaga guyub rukun antarwarga, bergotong-royong, dan memberikan kontribusi positif untuk masyarakat,” terang Waimin.
Menurut dia, pakaian adat yang dikenakan warga juga menjadi sarana untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda.
Sementara kostum profesi membawa pesan agar masyarakat terus memberikan kontribusi melalui bidang pekerjaan dan kemampuan masing-masing.
“Di usia kemerdekaan ke-81 ini, masyarakat tidak boleh hanya berdiam diri, melainkan harus terus berkontribusi melalui profesinya masing-masing,” katanya.
Kekompakan Warga Jadi Kekuatan Kampung Puntan
Semangat kebersamaan terlihat dari keterlibatan warga dalam pelaksanaan upacara. Suharsulasmono, salah seorang peserta, mengenakan beskap sebagai representasi busana adat Jawa.
Ia menilai konsep upacara yang menggabungkan budaya dan keberagaman dapat menjadi gambaran kekompakan warga.
“Kegiatan ini sangat luar biasa. Saya berharap cerminan upacara hari ini dapat menjadi pemantik semangat persatuan, tidak hanya bagi warga di sini, tetapi juga bagi bangsa Indonesia secara luas,” ujarnya.
Ketua RT 02 Santoso juga mengapresiasi partisipasi masyarakat. Menurutnya, berbagai kegiatan positif yang melibatkan warga dapat menjadi modal untuk mempertahankan kekompakan lingkungan.
“Saya sangat bangga dan senang warga Puntan kompak-kompak. Agenda positif seperti ini bisa terus berlanjut di tahun-tahun mendatang,” tuturnya.
Ketua RT 03 Puji Riyanto menyebut pelaksanaan upacara bersama menjadi salah satu bukti bahwa kerukunan warga masih terjaga.
“Ini membuktikan bahwa di tengah berbagai dinamika kehidupan yang ada, warga Puntan bisa bersatu dan sukses melaksanakan agenda upacara bersama-sama. Ini adalah wujud guyub rukun yang sesungguhnya,” pungkas Puji.
Gang Presiden Jadi Identitas Kampung Puntan
Kampung Puntan memiliki keunikan lain yang menjadi bagian dari identitas lingkungannya. Sejumlah gang di kawasan RT 02 dan RT 03 RW 01 diberi nama menggunakan nama sejumlah presiden Indonesia.
Nama Gang Soekarno, Gang Soeharto, Gang Habibie, Gang Gus Dur, Gang SBY hingga Gang Jokowi digunakan sebagai bentuk penghormatan warga kepada para pemimpin Indonesia.
Waimin mengatakan penamaan tersebut juga mengandung harapan agar kepemimpinan selalu diiringi keteladanan dan kinerja yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Harapannya dengan ungkapan kecintaan warga dengan pemimpinnya melalui nama gang ini juga direspons para pemimpin agar memberikan teladan dan kinerja terbaik untuk rakyat,” tuturnya.
Upacara HUT ke-81 RI di Kampung Puntan akhirnya tidak hanya menjadi seremoni pengibaran bendera Merah Putih. Kreativitas mengolah sampah, keberagaman budaya, keterlibatan perempuan dan kekompakan warga menjadi bagian dari cara masyarakat memaknai kemerdekaan.
Bagi warga Kampung Puntan, semangat kemerdekaan diwujudkan melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: menjaga lingkungan, merawat kebudayaan, bergotong royong dan terus memberikan kontribusi bagi masyarakat.(tya)













