Big Bad Wolf Semarang 2026 resmi dibuka di Queen City Mall Semarang dan langsung diserbu ratusan pengunjung.

Big Bad Wolf Semarang 2026 resmi dibuka di Queen City Mall Semarang dan langsung diserbu ratusan pengunjung.

FOLKSTIME.ID– Big Bad Wolf Semarang 2026 langsung diserbu ratusan pengunjung saat pintu masuk The Suri Ballroom, Queen City Mall Semarang, dibuka pada Kamis (9/7/2026). Rak-rak buku internasional dipadati pembeli hanya dalam hitungan detik, sementara keranjang hingga empat troli sekaligus terlihat digunakan untuk membawa buku-buku yang diburu dengan potongan harga besar.

Fenomena tersebut memperlihatkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap bazar buku internasional Big Bad Wolf Semarang 2026. Buku anak internasional, picture book, workbook, phonics book, activity book hingga novel menjadi koleksi yang paling banyak dicari sejak hari pertama penyelenggaraan. Sejumlah rak bahkan dilaporkan sempat kosong beberapa menit setelah pengunjung memasuki area bazar.

Mayoritas pengunjung telah mempersiapkan daftar buku sebelum acara dibuka. Lokasi rak buku incaran sudah dipelajari lebih dahulu sehingga proses berburu buku berlangsung sangat cepat. Kata kunci Big Bad Wolf Semarang 2026, buku anak internasional murah, serta bazar buku internasional menjadi magnet utama yang mendorong lonjakan pengunjung sejak pagi hari.

“Yang jelas buat buku anakku sama beberapa teman-teman aku yang nitip ke aku. Karena ini kan bazar internasional dan yang murah jarang-jarang banget. Makanya orang-orang pada berebut cepat-cepatan masuk. Beberapa buku bahkan di bawah Rp50 ribu,” ujar Karina Ayo, pengunjung asal Ungaran.

Karina mengaku telah datang sejak pagi karena membuka jasa titip pembelian buku bagi pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, sekitar 150 orang telah memesan buku melalui layanan jasa titip yang dibukanya. Setiap pemesan rata-rata meminta lima judul buku yang seluruhnya telah ditentukan sebelum bazar dibuka.

“Mungkin ada 150-an orang yang nitip. Rata-rata satu orang bisa lima buku. Orang-orang dari seluruh Indonesia pada nitip ke aku dan ini baru pertama kali aku open jastip,” katanya.

Ia memastikan seluruh buku yang dibeli telah sesuai dengan daftar pesanan pelanggan.

“Enggak random. Semua sudah sesuai pesanan. Tadi memang deg-degan karena banyak yang rebutan. Buku workbook umur satu sampai tiga tahun sama picture book banyak yang langsung habis,” ungkapnya.

Rela Datang dari Luar Kota

Antusiasme berburu buku murah tidak hanya diperlihatkan warga Kota Semarang. Pengunjung dari luar daerah juga terlihat memadati lokasi bazar sejak pagi.

Doni Kurniadi Wibowo bersama keluarganya diketahui datang dari Slawi, Kabupaten Tegal, untuk mencari buku edukasi bagi anaknya setelah mengetahui informasi penyelenggaraan Big Bad Wolf melalui media sosial.

“Ini tahu dari media sosial. Kebetulan punya anak kecil, jadi berburu buku edukasi dan buku aktivitas anak-anak,” katanya.

Menurut Doni, koleksi buku yang tersedia dinilai jauh lebih lengkap dibandingkan toko buku pada umumnya.

“Yang mungkin di toko biasa susah didapat, harus online, di sini sudah ada semua. Harganya juga masuk akal, jadi memang sengaja datang sampai sini,” ujarnya.

Ia mengungkapkan perjalanan telah dimulai sejak dini hari agar dapat menjadi salah satu pengunjung pertama yang masuk ke area bazar.

“Persiapan jam lima, jam enam sudah berangkat naik kendaraan pribadi,” katanya.

Puluhan buku telah berhasil dimasukkan ke dalam troli, sementara proses pencarian masih terus dilakukan karena sejumlah judul masih berada dalam daftar belanja keluarganya.

“Ini sudah puluhan buku. Masih nambah lagi karena istri masih cari yang ada di daftar,” tambahnya.

Big Bad Wolf Kembali ke Semarang

Kembalinya Big Bad Wolf ke Kota Semarang setelah terakhir digelar pada 2023 disebut mendapat sambutan di luar perkiraan penyelenggara.

Country Director Big Bad Wolf Indonesia, Marthius Wandi Budianto, mengaku antusiasme masyarakat pada hari pertama menjadi salah satu yang paling tinggi sejak bazar dibuka.

“Jujur sangat excited banget dengan antusias Wolfies di Semarang. Kita pertama kali kembali lagi setelah tahun 2023 terakhir ada di Kota Semarang. Senang banget, harapannya setiap hari semakin banyak warga Semarang yang menyempatkan diri mampir ke event ini,” katanya.

Menurut Wandi, bazar tersebut tidak hanya ditujukan untuk menjual buku dengan harga murah, tetapi juga diharapkan menjadi destinasi wisata literasi bagi keluarga.

“Hopefully dari pilihan buku yang kita bawa ada beberapa judul yang sangat menginspirasi hidup teman-teman untuk membawa perubahan,” ujarnya.

Koleksi Didominasi Buku Anak

Sekitar 60 hingga 70 persen koleksi yang dibawa ke Big Bad Wolf Semarang 2026 didominasi buku anak internasional.

Keputusan tersebut diambil karena buku anak dari berbagai negara dinilai memiliki metode pembelajaran yang lebih variatif, mulai dari phonics book, sound book, pop-up book hingga activity book.

“Kalau teman-teman lihat sebenarnya 60 sampai 70 persen buku yang kita bawa itu buku anak-anak. Di Eropa dan Amerika perkembangan buku anak luar biasa,” kata Wandi.

Ia menilai keberadaan berbagai jenis buku tersebut dapat menjadi alternatif kegiatan belajar sekaligus mengurangi ketergantungan anak terhadap penggunaan gawai.

“Daripada kebiasaan main gadget atau melihat screen, banyak activity yang bisa dilakukan. Belajar berbicara, belajar bahasa Inggris, menggunakan sound book maupun activity book,” ujarnya.

Selain buku anak, berbagai kategori lain seperti buku bisnis, nonfiksi, hingga self development juga disediakan bagi pembaca usia produktif.

Lebih dari Satu Juta Buku Disiapkan

Lonjakan pembeli pada hari pertama sempat menyebabkan beberapa rak terlihat kosong.

Namun, kondisi tersebut dipastikan hanya berlangsung sementara karena lebih dari satu juta buku telah disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pengunjung selama penyelenggaraan berlangsung.

“Tenang saja. Kita bawa lebih dari satu juta buku ke sini. Semua stok yang habis akan kita restock. Bahkan tidak perlu menunggu besok, setelah makan siang meja-meja akan penuh lagi,” kata Wandi.

Selain menghadirkan buku impor, Big Bad Wolf juga menggandeng Agromedia untuk menghadirkan puluhan penerbit lokal sehingga pilihan buku berbahasa Indonesia semakin beragam.

Harga Murah untuk Memperluas Literasi

Harga buku yang ditawarkan jauh di bawah harga pasar disebut menjadi strategi untuk memperluas akses masyarakat terhadap bacaan berkualitas.

“Kalau dibanding kompetitor retail lokal, harga kita bisa satu banding dua. Ini salah satu effort kita supaya buku bisa diakses semua kalangan masyarakat,” ujar Wandi.

Ia menegaskan keberhasilan Big Bad Wolf tidak hanya diukur dari nilai penjualan, tetapi dari bertambahnya jumlah masyarakat yang gemar membaca.

“Yang kita incar sebenarnya bukan sekadar revenue, tetapi bagaimana caranya menambah jumlah pembaca baru di Indonesia.”

Menurutnya, rendahnya tingkat literasi nasional lebih banyak dipengaruhi terbatasnya akses masyarakat terhadap buku berkualitas dibanding rendahnya minat membaca.

“Bukan berarti orang Indonesia malas baca. Akses ke toko buku juga sulit. Big Bad Wolf hadir untuk mempermudah masyarakat mendapatkan buku berkualitas dengan harga yang terjangkau,” pungkasnya.(tya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *