
FOLKSTIME.ID – Kasus penyakit ginjal kronis yang kerap terlambat terdeteksi mulai direspons melalui pendekatan pencegahan berbasis komunitas dengan menjadikan lingkungan pesantren sebagai titik awal deteksi dini gangguan ginjal pada remaja. Upaya tersebut diwujudkan melalui Gerakan SPG (Santri Peduli Ginjal) yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Semarang di Pondok Pesantren Al-Badriyah 2, Kabupaten Demak.
Program edukasi kesehatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesadaran santri terhadap faktor risiko penyakit ginjal kronis sekaligus membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia muda. Kelompok remaja dinilai menjadi sasaran strategis karena pola hidup yang terbentuk pada masa tersebut akan memengaruhi kondisi kesehatan di masa mendatang.
Sejumlah pemeriksaan kesehatan dasar juga dilakukan sebagai bagian dari skrining awal. Pemeriksaan meliputi tekanan darah, indeks massa tubuh, lingkar tubuh, hingga pengecekan kadar gula darah guna mengidentifikasi potensi risiko kesehatan sejak dini.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Semarang, Nanang Qosim, mengatakan bahwa pesantren dipilih karena memiliki sistem pembinaan yang memungkinkan perilaku hidup sehat diterapkan secara konsisten.
“Melalui Gerakan SPG atau Santri Peduli Ginjal, kami ingin menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak dini agar santri memahami pentingnya menjaga kesehatan ginjal melalui langkah-langkah sederhana,” kata Nanang.
Menurut dia, upaya promotif dan preventif harus diperkuat untuk menekan peningkatan kasus penyakit kronis yang banyak ditemukan ketika telah memasuki stadium lanjut.
“Lingkungan pesantren memiliki pola aktivitas yang teratur sehingga sangat potensial digunakan sebagai sarana pembentukan kebiasaan hidup sehat,” ujarnya.
Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Ginjal
Dalam sesi edukasi, santri diberikan pemahaman mengenai fungsi ginjal serta berbagai faktor yang dapat memicu terjadinya gangguan ginjal kronis. Materi tersebut disampaikan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala awal yang sering kali tidak dikenali.
Pemateri edukasi kesehatan, Salikun, M.Kes, menjelaskan bahwa kerusakan ginjal umumnya berkembang secara perlahan dan sering tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal.
“Ginjal memiliki fungsi yang sangat vital dalam menjaga keseimbangan tubuh, tetapi kerusakannya sering berlangsung tanpa gejala hingga memasuki tahap lanjut,” ujar Salikun.
Ia menyebutkan sejumlah tanda yang perlu diwaspadai, seperti pembengkakan pada tubuh, mudah lelah, mual, hingga perubahan pola buang air kecil.
“Tanda-tanda tersebut sering kali tidak disadari sebagai sinyal awal gangguan ginjal sehingga banyak kasus baru diketahui ketika kondisinya sudah cukup berat,” katanya.
Salikun juga mengingatkan bahwa perubahan gaya hidup remaja saat ini turut meningkatkan risiko gangguan kesehatan ginjal.
“Kurangnya konsumsi air putih, tingginya konsumsi minuman manis, minim aktivitas fisik, dan kebiasaan begadang merupakan faktor yang perlu mendapat perhatian,” ujarnya.
Gerakan Hidup Sehat di Lingkungan Pesantren
Sebagai tindak lanjut edukasi, para santri diperkenalkan dengan konsep CERDIK yang menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala, aktivitas fisik rutin, pola makan seimbang, istirahat cukup, serta pengelolaan stres.
Selain penyampaian materi, leaflet edukasi juga dibagikan kepada peserta. Kegiatan kemudian ditutup dengan deklarasi Gerakan Santri Peduli Ginjal sebagai bentuk komitmen bersama untuk menerapkan perilaku hidup sehat di lingkungan pesantren.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Badriyah 2, Ahmad Dliya’uddin Zabidi, menilai program tersebut memberikan manfaat besar dalam memperkuat peran pesantren dalam pembentukan generasi yang sehat dan berkarakter.
“Pendekatan ini memperkuat peran pesantren dalam membentuk generasi yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap pentingnya menjaga kesehatan,” katanya.
Nanang menegaskan bahwa model pencegahan berbasis komunitas perlu terus diperluas agar mampu menjadi bagian dari sistem deteksi dini penyakit tidak menular di masyarakat.
“Pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Kami berharap para santri dapat menjadi agen perubahan dan menyebarluaskan pesan hidup sehat kepada keluarga maupun masyarakat sekitar,” tutur Nanang.
Melalui model intervensi berbasis komunitas tersebut, pesantren diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkuat upaya pencegahan penyakit tidak menular sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan ginjal sejak usia remaja. (Mus)
