Kebakaran rumah di Jalan Kerapu, Semarang Utara, menewaskan seorang perempuan bernama Susilawati (43).

Korban ditemukan di dekat sumur saat proses pemadaman, sementara penyebab kebakaran masih diselidiki tim investigasi.

FOLKSTIME.ID – Kebakaran rumah di Jalan Kerapu Raya RT 11 RW 1, Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Rabu (22/7) sekitar pukul 14.30 WIB menewaskan seorang perempuan bernama Susilawati (43) yang ditemukan terjebak di dalam bangunan saat proses pemadaman dilakukan.

Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di bagian belakang rumah, sementara seluruh bangunan beserta isinya dilaporkan hangus dilalap api. Penyebab kebakaran hingga kini masih dalam tahap penyelidikan oleh tim investigasi kebakaran Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang.

Peristiwa kebakaran rumah di Semarang Utara itu sempat mengundang perhatian warga karena kobaran api dengan cepat membesar. Warga berupaya mencegah api merembet ke rumah di sekitarnya menggunakan ember dan selang air sembari menunggu kedatangan petugas pemadam kebakaran.

Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, mengatakan petugas bergerak ke lokasi sesaat setelah laporan diterima dan berhasil tiba dalam waktu kurang dari lima menit. Namun, saat armada tiba, sebagian besar bangunan sudah dilalap api.

“Kami langsung berangkat. Sampai sini kurang dari lima menit, tetapi kondisi rumah sudah terbakar lebih dari separuh,” kata Ade.

Menurut Ade, keberadaan korban baru diketahui beberapa menit setelah proses pemadaman dimulai. Saat petugas melakukan penyemprotan, informasi mengenai adanya penghuni di dalam rumah diterima sehingga pencarian langsung dilakukan.

“Saat teman-teman melakukan penyemprotan baru diketahui ada korban di dalam. Korban ditemukan di bagian belakang rumah, dekat sumur. Sepertinya korban berusaha melindungi diri menggunakan sumber air yang ada di lokasi,” ujarnya.

Korban diketahui merupakan Susilawati (43) yang memiliki riwayat gangguan jiwa. Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih belum dapat dipastikan karena proses investigasi masih berlangsung.

“Untuk penyebab kebakaran belum bisa dipastikan. Nanti tim investigasi kebakaran akan melakukan pemeriksaan setelah proses identifikasi selesai,” tutur Ade.

Rumah yang terbakar diketahui dihuni oleh dua kepala keluarga. Seluruh bangunan beserta barang-barang di dalamnya hangus terbakar, sementara tidak dilaporkan adanya barang berharga yang tersimpan di lokasi saat kejadian.

Pascakebakaran, bantuan bagi keluarga terdampak akan dikoordinasikan bersama instansi terkait agar penanganan pascakejadian dapat segera dilakukan.

Di lokasi kejadian, warga sempat melakukan pemadaman secara mandiri untuk menghambat penyebaran api ke rumah-rumah di sekitarnya. Upaya tersebut dilakukan sebelum armada pemadam kebakaran tiba.

Seorang saksi, Yani, mengaku baru terbangun setelah mendengar suara letupan dari arah rumah yang terbakar. Saat keluar rumah, kobaran api disebut sudah membesar.

“Saya keluar itu apinya sudah besar. Saya enggak mikir apa-apa, langsung cari selang sama ember buat bantu bapak-bapak nyari air,” ujar Yani.

Menurutnya, warga segera bergotong royong menyiram rumah di sekitar lokasi agar api tidak merembet ke bangunan lain.

“Saya nyiram rumah sebelahnya, takutnya kan nyamber. Warga langsung gotong royong cari ember sama air sambil nunggu Damkar datang,” katanya.

Yani juga mengaku sempat mendengar suara letupan lebih dari satu kali sebelum kobaran api semakin membesar. Saat itu, dirinya mengetahui masih ada seorang penghuni yang berada di dalam rumah.

“Yang di dalam ada orang. Saya sudah enggak mikir yang lain, pokoknya cari ember sama selang,” ucapnya.

Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang turut mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di kawasan permukiman padat. Hingga 22 Juli 2026, sebanyak 51 kasus kebakaran telah ditangani oleh petugas di wilayah Kota Semarang.

“Angka kebakaran bulan ini meningkat drastis. Kami mengimbau masyarakat tidak membakar lahan sembarangan dan memastikan instalasi listrik di rumah aman, terutama di kawasan permukiman padat,” pungkas Ade.(tya)

@folkstime.id

FOLKSTIME.ID – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menjenguk korban kecelakaan di perlintasan kereta api di Jalan Kokrosono, Senin (20/7/2026). Dalam kesempatan itu, Luthfi menyampaikan belasungkawa setelah jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi dua orang. Korban yang meninggal adalah Hafiz Raihan (9), yang wafat saat perjalanan menuju rumah sakit, serta Rujito (45), paman yang mengantar dua keponakannya ke sekolah dan meninggal saat menjalani perawatan. Sementara satu korban lainnya, Zafran Ibrahim (12), masih dirawat dan dilaporkan telah sadar. “Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Kita doakan yang sudah mendahului mendapatkan husnul khatimah, dan yang masih dirawat semoga segera dipulihkan,” kata Luthfi. Gubernur juga memastikan pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap penanganan korban. Ia meminta Dinas Kesehatan Jawa Tengah berkoordinasi dengan RSUP Dr. Kariadi agar seluruh kebutuhan perawatan dapat dipenuhi dan beban keluarga korban dapat diringankan. Selain itu, Luthfi mengingatkan masyarakat untuk tidak menerobos perlintasan kereta api ketika sirene berbunyi atau petugas telah memberikan peringatan. Menurutnya, kepatuhan terhadap rambu lalu lintas di perlintasan sebidang sangat penting untuk mencegah kecelakaan serupa. #folkstime #semarang #keretaapi #jateng #luthfi

♬ Recall Mode – Brainwave

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *