
690 siswa SMKN 6 Semarang diduga keracunan usai mengonsumsi MBG. Dinkes menerjunkan tiga ambulans, sementara sampel makanan diperiksa di laboratorium.
FOLKSTIME.ID – Dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaporkan terjadi di SMK Negeri 6 Semarang, Jumat (31/7/2026). Sebanyak sekitar 690 siswa dilaporkan mengalami keluhan kesehatan berupa mual, diare, muntah, hingga pusing setelah menu MBG dibagikan. Penanganan darurat langsung dilakukan dengan melibatkan Dinas Kesehatan Kota Semarang, puskesmas, tenaga medis, serta instansi terkait, sementara penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Program Makan Bergizi Gratis dibagikan kepada siswa sekitar pukul 09.00 WIB. Sekitar satu jam setelah makanan dikonsumsi, keluhan kesehatan mulai dilaporkan oleh sejumlah siswa. Kondisi tersebut membuat kegiatan belajar dihentikan lebih awal dan para siswa dipulangkan sekitar pukul 11.00 WIB sembari dilakukan pendataan terhadap seluruh siswa yang mengalami gejala.
Langkah penanganan segera dilakukan oleh pihak sekolah melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Semarang. Tiga unit ambulans bersama tenaga kesehatan diterjunkan ke lokasi untuk memberikan pemeriksaan dan penanganan awal kepada para siswa yang mengalami keluhan.
Kepala SMKN 6 Semarang, Berti Sagendra, mengatakan koordinasi penanganan langsung dilakukan setelah adanya laporan dugaan keracunan. Menurutnya, data korban masih terus berkembang karena proses pendataan belum selesai.
“Tadi saya sudah berkoordinasi dengan tim di sekolah dan sudah menginstruksikan penanganan terkait indikasi keracunan. Data masih berkembang. Untuk sementara laporan yang masuk melalui Google Form sekitar 690-an dengan berbagai keluhan, ada yang pusing, mual, diare, sampai muntah,” katanya.
Penanganan medis disebut telah dilakukan bersama Dinas Kesehatan Kota Semarang. Selain tiga ambulans dan tenaga kesehatan, unsur Babinsa, Bhabinkamtibmas, Puskesmas Almahira, hingga pihak penyedia Program Makan Bergizi Gratis (SPPG) juga diterjunkan ke sekolah untuk membantu proses penanganan para siswa.
“Begitu ada indikasi beberapa anak merasakan sakit, kami langsung menghubungi Dinas Kesehatan Kota Semarang. Alhamdulillah tiga ambulans dan tenaga medis sudah hadir di sekolah untuk membantu penanganan. Dari Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga pihak SPPG juga hadir di lokasi,” ujar Berti.
Sebagian besar siswa yang mengalami gejala dilaporkan mendapatkan penanganan di lingkungan sekolah. Sementara itu, sejumlah orang tua memilih membawa anaknya ke rumah sakit guna memperoleh pemeriksaan lanjutan sesuai kondisi masing-masing.
“Yang mengalami mual, pusing, dan diare sebagian besar sudah ditangani di sekolah bersama Puskesmas Almahira. Ada beberapa orang tua yang memilih merujuk anaknya ke rumah sakit dan kami mengikuti keputusan tersebut,” ungkapnya.
Jumlah siswa yang dirujuk ke rumah sakit disebut tidak banyak. Hingga Jumat siang, data lengkap mengenai siswa yang menjalani perawatan lanjutan masih terus dihimpun oleh pihak sekolah.
“Kalau yang dirujuk ke rumah sakit tidak sampai empat siswa. Ada yang dibawa ke RST dan ada juga ke RSBN. Untuk data lengkapnya masih kami himpun karena kejadian baru berlangsung siang tadi,” jelas Berti.
Di sisi lain, dugaan mengenai kualitas makanan juga disampaikan oleh salah seorang siswa yang identitasnya disamarkan dengan nama Milea. Ia mengaku mulai merasakan mual tidak lama setelah mengonsumsi menu MBG dan menyebut hampir seluruh siswa di kelasnya mengalami keluhan dengan tingkat yang berbeda.
“Jam 10 itu mulai ada yang mengeluh, makanya terus disuruh pulang,” katanya.
Menu MBG yang dibagikan pada hari itu terdiri atas tahu, telur kecap, dan susu. Milea menduga tahu yang disajikan sudah tidak berada dalam kondisi segar saat dikonsumsi.
“Kalau yang tadi itu tahunya seperti sudah agak basi,” ujarnya.
Ia juga mengaku menemukan kualitas makanan yang diduga kurang baik pada menu MBG yang dibagikan sehari sebelumnya.
“Kalau kemarin itu ayam rendang sama sayur singkong, sayurnya juga sudah agak-agak basi,” tuturnya.
Menurut Milea, sejumlah siswa sempat dievakuasi ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS) sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut dari tenaga kesehatan yang datang ke sekolah.
“Tadi dievakuasi ke UKS dulu, kemudian ada ambulans dan dilarikan ke puskesmas sepertinya,” ucapnya.
Ia mengaku mengalami mual dan diare setelah mengonsumsi makanan tersebut, meski kondisinya tidak tergolong berat.
“Saya sampai keluar masuk kamar mandi empat kali. Sekarang masih mules, cuma saya tidak terlalu parah,” pungkasnya.
Sementara itu, penyebab pasti dugaan keracunan massal setelah Program Makan Bergizi Gratis di SMKN 6 Semarang masih belum dapat dipastikan. Sampel makanan telah diambil dan sedang diperiksa di laboratorium oleh pihak terkait untuk memastikan sumber gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
“Untuk sementara pihak SPPG dan Dinas Kota Semarang sudah melakukan pengecekan di laboratorium. Kami belum bisa memastikan penyebabnya. Yang jelas keluhan yang muncul didominasi pusing, mual, dan diare sambil menunggu hasil penyelidikan,” kata Berti.
Hingga berita ini diturunkan, pendataan terhadap siswa yang mengalami keluhan masih terus dilakukan. Hasil pemeriksaan laboratorium masih ditunggu untuk memastikan penyebab dugaan keracunan massal yang terjadi setelah konsumsi Program Makan Bergizi Gratis di SMKN 6 Semarang.(tya)
