
SKKN KOPRI Nasional di Semarang mendorong perempuan menjadi subjek geopolitik melalui penguatan kepemimpinan
FOLKSTIME.ID – Perempuan didorong untuk ditempatkan sebagai subjek geopolitik yang mampu menentukan arah pembangunan bangsa di tengah perubahan konstelasi dunia. Gagasan tersebut disampaikan dalam Sekolah Kader KOPRI Nasional (SKKN) yang diselenggarakan Korp PMII Putri di Gedung BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, Semarang, pada 26–30 Juni 2026.
Penguatan kapasitas kader perempuan melalui SKKN KOPRI Nasional diarahkan untuk membangun pemahaman mengenai dinamika geopolitik global, perubahan tatanan ekonomi internasional, hingga peluang strategis Indonesia dalam menghadapi kompetisi antarnegara. Sebanyak 30 delegasi dari berbagai cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Indonesia dilibatkan dalam forum kaderisasi tersebut.
Isu perempuan sebagai subjek geopolitik menjadi salah satu materi utama yang diberikan kepada peserta. Peran perempuan dinilai tidak lagi terbatas pada ruang organisasi, melainkan perlu diperkuat agar mampu berkontribusi dalam diplomasi, pembangunan ekonomi, hingga pengambilan kebijakan publik di tingkat nasional maupun internasional.
“Indonesia berada di titik strategis. Siapa yang mampu membaca arah geopolitik, dia yang akan bertahan dan memimpin dalam percaturan global,” kata pengamat politik Dr. M. Kholidul Adib saat menyampaikan materi dalam SKKN KOPRI Nasional.
Dalam paparannya dijelaskan bahwa dunia sedang memasuki era multipolar yang ditandai dengan bergesernya dominasi kekuatan Barat serta meningkatnya pengaruh negara-negara seperti China dan Rusia. Kondisi tersebut disebut telah memunculkan persaingan baru yang dipengaruhi konflik kawasan, rivalitas ekonomi, hingga perebutan pengaruh di kawasan Indo-Pasifik.
Ketegangan geopolitik global juga disebut telah berdampak pada meningkatnya persaingan dalam penguasaan sumber daya strategis, seperti nikel, litium, dan kobalt yang dibutuhkan untuk mendukung transisi energi hijau dunia. Indonesia dinilai memiliki posisi yang menguntungkan karena memiliki cadangan komoditas tersebut dalam jumlah besar.
Menurut Adib, peluang strategis tersebut harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan membaca perkembangan geopolitik sekaligus menguasai teknologi dan ekonomi masa depan. Perempuan dinilai memiliki ruang yang semakin luas untuk mengambil peran tersebut.
“Kalau perempuan bisa menguasai ekonomi, teknologi, dan jaringan global, maka mereka akan menjadi kekuatan yang menentukan masa depan bangsa,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Kaderisasi Nasional KOPRI PMII, Dewi Avivah, menjelaskan bahwa SKKN diselenggarakan untuk memperkuat kualitas kader perempuan agar mampu beradaptasi dengan tantangan global yang semakin kompleks.
Menurutnya, kader perempuan tidak cukup hanya memahami tata kelola organisasi, tetapi juga harus memiliki kapasitas dalam membaca perubahan politik internasional yang berpengaruh terhadap kondisi ekonomi, sosial, dan pembangunan nasional.
Melalui proses kaderisasi tersebut diharapkan lahir kader-kader perempuan yang memiliki perspektif global, mampu membangun jejaring strategis, serta siap mengambil peran kepemimpinan dalam berbagai sektor, mulai dari ekonomi digital, pendidikan, UMKM, hingga diplomasi internasional.
Pelaksanaan SKKN KOPRI Nasional juga diharapkan menjadi fondasi penguatan kepemimpinan perempuan Indonesia yang adaptif terhadap dinamika geopolitik dunia sekaligus mampu memperkuat posisi bangsa dalam menghadapi perubahan tatanan global.(mus)

1 thought on “Perempuan Tak Lagi Jadi Penonton Geopolitik, SKKN KOPRI Nasional Cetak Pemimpin Baru dari Semarang”